Lelaki Pekerja Pabrik
Ruangan kecil itu malam itu hanya dihuni oleh dua orang. Yang satu adalah perempuan. Ia masih muda,walaupun tidak bisa dikategorikan ABG. Namun ia masih muda, terlihat dari kulit wajahnya yang masih kencang gerak tubuhnya yang masih lincah. Namanya Nani.
Orang bilang ia janda, makanya tukang-tukang ojeg di seberang warung nasi ini saling bersaing mendapatkannya. Meskipun belum ada satu pun dari mereka yang berhasil meluluhkan hati Nani, namun ada efek bagusnya : warung Nani jadi laris. Setiap siang tukang-tukang ojeg makan di sini. Apa tidak tekor dari uang setoran mereka? Peduli amat. Yang penting dagangan Nani laris.
Nani memang jual mahal, tetapi diam-diam ia mengidamkan hadirnya seorang lelaki yang mengobati kesepiannya. Maklumlah, ia belum sempat punya anak ketika suaminya menceraikannya.
Ksatria
Di sebuah kampung di mana matahari senja selalu terhalang oleh gunung, hiduplah sebuah legenda tentang seorang ksatria yang tidak pernah terkalahkan oleh apapun, bahkan oleh dewa sekalipun.
Ia telah menaklukan seekor naga yang kerap mengganggu anak-anak kampung, dan menghalau halilintar yang sering membakar lumbung-lumbung padi para petani. Ia menjadi pahlawan, dipuja oleh para perawan, dan menjadi cerita epik pengantar tidur anak-anak.
Ia sakti, mewariskan kekuatan supranatural dari langit kelima, energinya disuplai dari bintang-bintang di galaksi andromeda. Pedang besarnya yang tajam dan bertahtakan tujuh mutiara yang hanya dimiliki oleh Kaisar Langit, membuat gentar siapapun yang berhadapan dengannya.
Jika sedang bertempur, jubahnya akan berkibar-kibar tatkala lompatan tingginya yang hampir terbang menghadang monster-monster yang datang dari balik gunung. Sekali ayun ia tebas dua-tiga leher musuhnya. Pernah ia menghadapi tiga ratus pasukan setan yang hendak menguasai kampung, sendirian!
Hanya saja, tidak ada seorang pun yang tahu di mana ksatria itu tinggal. Seseorang bilang ia tinggal di puncak gunung, bertapa di sela-sela awan. Ada yang bilang ia tinggal di sebuah gua gelap di balik air terjun. Tampaknya riwayat yang terakhir ini yang paling kuat dan paling banyak dipercaya orang-orang. Menurut penuturan orang-orang yang pernah mencoba menemuinya, pada malam-malam tertentu, air terjun itu berhenti seketika, menjadi beku, seperti es. Lalu sang ksatria akan keluar dari gua menyibak air terjun itu seperti menyibak tirai.
Kami Bukan Generasi Mati Rasa!!
oleh : salam revolusi
Teruntuk bapak-ibu capres-cawapres yang sedang melenggang ke seantero negeri. Saya prihatin menyaksikan style kampanye anda sekalian yang lebih mirip jumpa fans artis dengan penggemar. Dielu-elukan oleh para pendukung anda.
Semangat boleh mengadopsi gaya 45, menggelegar membahana di jagat raya, dengan suara-suara bak ksatria. tetapi nyatanya, kebijakan yang anda telorkan sama saja. Setahun, dua tahun, tiga tahun.. satu dasawarsa, tiga dasawarsa, dan seterusnya, tidak ada perubahan fundamental yang terjadi di negeri gemah ripah. nonsense.
PRES-WAPRES KAMPANYE, NEGARA LIBUR?
Ada satu persoalan yang mungkin terlewatkan untuk kita perdebatkan, yakni apakah seorang pemimpin yang sudah menjadi milik rakyat masih boleh diklaim sebagai milik partainya?
Saya mulanya maklum ketika menyaksikan berita di teve bahwa sang Presiden berbaju partai ikut berkampanye. Namun kemakluman ini berubah menjadi keheranan tatkala mengetahui bahwa sang wakil pun pada waktu yang sama ternyata sedang bersama-sama partainya. Nah lho, lantas siapa yang ngurus negara? Ataukah negara diliburkan selama masa kampanye?
Matematika Kemenangan
Lebih baik menunda kemenangan secara sengaja, daripada kita merebutnya untuk kemudian dilepas dalam waktu singkat bersama datangnya badai.
Setiap momen politik adalah celah sejarah. Dalam konteks Indonesia, reformasi 1998 adalah contoh terdekat bagaimana sebuah celah sejarah terbuka dan semua komponen dari latar belakang ideologi yg berbeda berebut bermunculan, dari bawah tanah menuju pucuk pohon, dari pinggir bergeser ke tengah, ke pusat-pusat perumusan kebijakan.
Dalam konteks pergerakan Islam, setiap momen politik berarti tantangan untuk menghitung : seberapa besar peluang untuk melompat ke kekuasaan? Pemilu, misalnya, di alam demokratis seperti sekarang akan menjadi momen politik lebih random posibilitas kondisi pascanya dibanding pemilu di masa Orde Baru dulu.
TUGAS SEJARAH
Apa yang Anda pikirkan sewaktu bangun tidur? Saya teringat pada sebuah serial kartun di televisi yang diputar waktu saya kecil dulu, yang judulnya The Pinky and The Brain. Keduanya adalah tikus. Yang satu bodoh dan polos, satu lagi jenius (sesuai namanya : Brain).
Yang menarik, serial itu selalu diawali dengan adegan di mana Pinky bertanya kepada Brain, “Apa yang akan kita lakukan hari ini, Brain?”. Dan Brain akan menjawab, “seperti biasa, Pinky. Mencoba mengusai dunia…”, kalimat ini selalu ia ucapkan secara dramatis. Dan betul, setiap episodenya menceritakan petualangan Pinky dan Brain dalam usahanya menguasai dunia. Brain memiliki sesuatu yang tidak dimiliki tikus lain.
LUPA

Seperti pepatah Arab : semua lelaki mengaku pernah bertemu Layla. Sayangnya, Layla tidak mengaku bertemu siapapun. Hari ini semua ‘calon wakil rakyat’ mengaku membela dan akan memperjuangkan rakyatnya. Tidak ada kecap nomor dua, semua partai mengaku akan mensejahterakan rakyat, berpihak pada petani, memperjuangkan hak perempuan. Semuanya.
Betul kata sebagian pengamat, bangsa ini mungkin mengidap penyakit lupa. Karena bukankah janji-janji (baca : mimpi-mimpi) itu juga yang diobral oleh mereka lima tahun lalu? Lalu bukankah setelah mereka duduk di senayan sana, yang ternyata ditelurkan adalah produk-produk hukum yang merugikan rakyat yang diwakilinya? UU Migas, UU Penanaman Modal Asing, UU Sumber Daya Air adalah di antara undang-undang yang sama sekali tidak pro-rakyat dan sangat pro-kapitalis. Lantas apa jaminan mereka tidak akan mengulang dosa yang sama?
Loyalitas
7 trilyun rupiah, biaya yang dihabiskan untuk menggelar pemilu bulan depan. Angka itu belum mencakup dana kampanye yang dikeluarkan oleh masing-masing caleg dari 12000 caleg yang berkompetisi, biaya iklan parpol dan capres di televisi, dan lain-lain.
Itu baru ongkos finansial. Kita belum menghitung energi yang dikuras untuk saling menjatuhkan, saling rayu antar parpol, antar kontestan, juga waktu dan energi untuk semua penjajakan kemungkinan koalisi antar calon. Semua ini demi sebuah pesta demokrasi di negeri yang katanya termasuk negara demokrasi terbesar di dunia.
Jembatan Cinta

Ternyata kecocokan tidak sama dengan kesamaan.
Banyak paramater untuk menilai kecocokan. Misal : hobi, minat, jurusan kuliah, tema buku yang digemari. Tapi semua itu sebetulnya bukan indikator untuk kata cocok, melainkan sama. Mudahnya, sekumpulan kunci di tangan tidak akan membuka pintu. Hanya sebuah kunci dan sebuah lubang kunci yang cocok yang dapat membuka pintu.
Read more…
Habis Gelap Terbitlah Terang
(Refleksi 85 Tahun Runtuhnya Khilafah)
Oleh : Reza Ageung

Kalau sekali waktu kita berada di padang pasir yang tandus dan selama sepekan tidak menemukan air, maka kehadiran satu tetes saja menjadi anugerah yang dipuja tiada henti. Padahal biasanya kita mengutuk hujan deras yang turun di waktu seharusnya kita keluar rumah.
Kekeringan dan lantas kehausan, fenomena lumrah. Ketika tidak ada seorang pemimpin pun yang berani mengambil tindakan nyata terhadap Israel, seorang Perdana Menteri yang mengutuk (sekedar mengutuk) Zionis akan dianggap pahlawan. Padahal bagi tukang ojeg sekalipun sekedar mengutuk bukan pekerjaan sulit. Dunia Islam haus akan pemimpin yang tegas, namun singa-singa punah, diganti dengan ayam-ayam yang sekalinya berkokok nyaring ditaburi applause.
Komentar Terakhir