Saatnya Para Ulama Turun Tangan!
Semua masalah bisa diselesaikan, tapi tidak jika kita berada dalam kondisi nircahaya alias gelap, tak ada satu pun yang nampak. Bayangkan sebuah dunia yang saking lamanya berada dalam kegelapan hingga terbiasa melakukan segala sesuatu dalam kondisi itu, betatapun hal itu akan jelas terlihat salah andai saja di bawah sinar.
Di dalam gelap, dedaunan dikira uang, maksud hati menendang bola padahal kepala, minum jus jeruk padahal darah, makan dendeng padahal ular. Generasi yang tidak pernah menyaksikan proses padamnya cahaya akan menganggap dunia yang gelap ini sebagai dunia yang sebenarnya, dan semua kebejatan menjadi lazim.
Kalau tidak boleh bawa-bawa isu agama dalam kehidupan bernegara, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah menghapus sila pertama Pancasila. Kedua, menghapus kalimat “Atas berkat Rahmat Allah” pada Preambule UUD 1945. Dan ketiga, menghapus pasal 29 UUD 1945.
Seberapa lama lagi konsep nation-state bisa bertahan? Saat ini, deru globalisasi telah menggila, membuat seluruh dunia bisa dilipat seukuran saku, menjadi apa yang disebut oleh Yasraf Amir Piliang sebagai Dunia Yang Dilipat. Ya, kemajuan teknologi informasi mempersempit dunia menjadi sebuah global village, bahkan, ini karangan saya saja, global house. Dalam global house, Negara-negara di dunia ibarat kamar-kamar saja, yang bisa disinggahi oleh penghuni kamar tetangganya kapan saja. Bahkan kamar-kamar itu punya jendela, lewat mana kita dapat mengintip semua aktivitas si penghuni kamar.
7 trilyun rupiah, biaya yang dihabiskan untuk menggelar pemilu bulan depan. Angka itu belum mencakup dana kampanye yang dikeluarkan oleh masing-masing caleg dari 12000 caleg yang berkompetisi, biaya iklan parpol dan capres di televisi, dan lain-lain.

Komentar Terakhir