Kembali ke Masa Depan (Menyelami Pemikiran Ziauddin Sardar tentang Syariat)
Di tengah-tengah polemik tentang penegakkan syariat, istilah syariat itu sendiri tentunya harus direkonstruksi. Ketika citra syariat lebih didominasi dengan kekerasan, intoleransi, dan ketertinggalan zaman, kehadiran kaum intelektual yang mampu mendobrak keterkungkungan pola pikir yang salah dari para ulama tradisional maupun modern mutlak diperlukan.
Dalam buku ini, Ziauddin Sardar, seorang cendekiawan pioner dalam studi-studi futuristik, mencoba menawarkan pola pikir yang ‘out of box’, yang diharapkan mampu menyegarkan pemikiran umat Islam terhadap dirinya, masa lalunya dan masa depannya, juga terhadap syariat, peradaban islam, dan posisinya terhadap peradaban lain.
Di bawah bulan, sesosok malaikat melesat tergesa ingin memberitahu seluruh jagad tentang berita gembira yang baru saja ia dengar. Secepat cahaya. Sang Bulan tak sempat bertanya, namun matahari sudah tersenyum lebih dulu, membuat arak-arakan awan dengan penuh pengabdian bersedia mecerai beraikan kawanannya agar sorot cinta Sang Mentari tidak terhalang sampai ke taman itu, menghangatkan bebungaan anggrek dan melati yang sedari malam bertasbih seraya menunduk penuh syukur atas tibanya satu masa yang lama dinantikan oleh seribu galaksi di tepi tembok langit.
Dalam Kamus Saku Oxford, Paranoia diartikan sebagai mental illnes in wich sb believes that other people want to harm him/her. Tanda-tandanya, kecurigaan berlebihan, dan cenderung memvonis orang bersalah sebelum dibuktikan kebersalahannya. Misalnya, aparat sekarang didesak untuk mengawasi setiap orang yang berjanggut bersorban, dan berjubah, kalau-kalau mereka teroris.
Harusnya memang program wajib belajar bukan hanya ditujukan pada rakyat, tapi juga pada penguasa. Terutama bukan karena buta huruf, tapi karena buta nurani. Kata Dr Ir Muslimin Naution, pasal 27 s.d. 34 UUD’45 menunjukkan bahwa secara konstitusional negara ini menganut ekonomi Syariah. Tapi, jauh panggang dari api. Kwik Kian Gee sampai menulis buku berjudul “Indonesia Menggugat Jilid II”, meyerupai judul pidato Bung Karno di hadapan hakim kolonial di Bandung pada tahun 1930 tentang gugatannya atas neoliberalimenya pemimpin negara ini.
Dunia mengalami tranformasi dari tatanan yang merekayasa tingkah laku manusia lewat perangkat yang bernama aturan, ke tatanan yang merekayasa pemikiran manusia lewat perangkat yang bernama media massa, ke tatanan yang merekayasa syahwat manusia lewat alat yang bernama iklan, dan sekarang ke tatanan yang merekayasa rasa takut manusia lewat alat yang bernama istilah terorisme dan anti-teror.
Saya senang menganalogikan proses tegaknya Khilafah seperti proses terbentuknya Negara Indonesia. Urutannya hampir sama, dari mulai gagasan, berlanjut ke pendidikan dan pembentukan kelompok elite yang mengusung gagasan. Selanjutnya dimulailah proses penyadaran dan kampanye dan seterusnya. Kurang lebih lekuk kerangka yang sama dengan kemerdekaan Indonesia bisa dijodohkan tepat dengan lekuk kerangka algoritma penegakkan khilafah.
Semua masalah bisa diselesaikan, tapi tidak jika kita berada dalam kondisi nircahaya alias gelap, tak ada satu pun yang nampak. Bayangkan sebuah dunia yang saking lamanya berada dalam kegelapan hingga terbiasa melakukan segala sesuatu dalam kondisi itu, betatapun hal itu akan jelas terlihat salah andai saja di bawah sinar.
Kalau tidak boleh bawa-bawa isu agama dalam kehidupan bernegara, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah menghapus sila pertama Pancasila. Kedua, menghapus kalimat “Atas berkat Rahmat Allah” pada Preambule UUD 1945. Dan ketiga, menghapus pasal 29 UUD 1945.
“Akankah fasilitas nuklir Pakistan dikuasai oleh kaum militan?” barangkali menjadi pertanyaan paling serius yang mencerminkan ketakutan Barat akan apa yang sedang terjadi di Pakistan di hari-hari terakhir. Taliban mulai merangsek ke pusat-pusat kota Pakistan, dan terakhir puluhan orang tewas dalam aksi pengeboman di Peshawar beberapa hari lalu.
Seberapa lama lagi konsep nation-state bisa bertahan? Saat ini, deru globalisasi telah menggila, membuat seluruh dunia bisa dilipat seukuran saku, menjadi apa yang disebut oleh Yasraf Amir Piliang sebagai Dunia Yang Dilipat. Ya, kemajuan teknologi informasi mempersempit dunia menjadi sebuah global village, bahkan, ini karangan saya saja, global house. Dalam global house, Negara-negara di dunia ibarat kamar-kamar saja, yang bisa disinggahi oleh penghuni kamar tetangganya kapan saja. Bahkan kamar-kamar itu punya jendela, lewat mana kita dapat mengintip semua aktivitas si penghuni kamar.
Komentar Terakhir