Kabut Wikileaks

”Perang informasi yang sesungguhnya baru saja dimulai. WikiLeaks medan tempurnya. Kalian semua tentaranya,” (John Perry Barlow, salah satu pendiri Electronic Frontier Foundation dan penulis lirik band Grateful Dead)

Si pembocor rahasia itu akhirnya dijebloskan ke penjara di Inggris. Kita tidak tahu apakah memang kasus pelecehan seksual itu betul-betul terbukti atau hanyalah semacam siasat jebak untuk menjeratnya, namun yang jelas ada kabar bahwa AS menyambut baik penangkapan pimpinan Wikileaks bernama Julian Assange itu.

AS memang terasa menjadi sasaran tembak utama dari Wikileaks, menyusul situs ini mebeberkan banyak dokumen rahasia AS tentang perang Irak, Afghanistan, hubungannya dengan pemimpin Arab, terorisme, siasat AS untuk menghegemoni Indonesia, dan seterusnya.

Terakhir, Assange menyalahkan politisi Austaralia, negaranya sendiri, yang bergabung dengan Departemen Luar Negeri AS ketika menyataan bahwa bocoran dokumen itu mengancam nyawa, membahayakan hidup para tentara dan keamanan nasional, lalu pada saat bersamaan mengatakan bahwa “tidak ada yang penting” dalam publikasi WikiLeaks itu. “Itu tidak bisa keduanya,” katanya. “WikiLeaks memiliki sejarah penerbitan selama empat tahun. Selama waktu itu, kami telah mengubah semua pemerintah, tetapi tidak seorang pun, sejauh yang disadari, telah dirugikan. Namun, AS, dengan keterlibatan Australia, telah menewaskan ribuan orang hanya dalam beberapa bulan terakhir.”

Assange, bukan hanya dikecam oleh pemerintahnya sendiri, Wikileaks didepak dari Amazon.com, banyak pihak berusaha menutup jalur donasinya. Bahkan facebook dan twitter menutup akun pendukung Wikileks menyusul aksi hacking para personel Wikileaks terhadap Mastercard.

Berada dalam posisi tertuduh, Assange berargumen bahwa misinya adalah “Memublikasikan fakta-fakta yang perlu diketahui publik tanpa rasa takut. Masyarakat demokratis membutuhkan media yang kuat dan WikiLeaks merupakan bagian dari media.” Alasan yang normatif, sebetulnya, hingga belum menjawab “alasan”. Alasan sebetulnya hanya akan terjawab kalau kita tahu siapa penyandang dana atau pihak di balik Wikileaks. Namun itu tidak mudah.

Yang jelas, ada situasi baru di mana sebuah konspirasi kini terkuak. Wikileaks merasa perlu untuk menjelaskan bahwa perang adalah sesuatu yang wajar, namun perang yang didasarkan oleh kebohongan sebuah pemerintahan atas rakyatnya, adalah perang yang perlu digugat. Sejak awal dalil perang AS sudah cacat, argumen Bush bahwa Irak menyimpan senjata pemusnah massal tidak pernah terbukti, alasan bahwa teroris telah meruntuhkan WTC dan karenanya Afghanistan harus diserang juga tidak pernah menemukan landasan shahihnya. AS mendasarkan perangnya atas kebohongan!

Sebenarnya aksi Wikileaks membongkar konspirasi bukanlah hal baru, ini biasa dilakukan di ranah politik. Di dunia pergerakan Islam, dalam strategi pergerakan dikenal istilah kasyful khuthath, yaitu aktivitas membongkar strategi penjajah, atau penguasa yang menjadi antek penjajah. Tujuannya agar umat tersadar untuk berusaha membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan penindasan penguasa yang pro-penjajah. Aksi ini sudah sering dilakukan, misalnya ketika digalangnya aksi-aksi intelelktual, politis sampai jalanan dalam rangka menolak kehadiran Obama sembari membongkar konspirasi di balik apa yang dinamakan “perjanjian komprehensif” antara Obama dan SBY. Kasyful khuthath sudah sering dilakukan bahkan tanpa membongkar dokumen-dokumen rahasia, sebagaimana yang dilakukan oleh Wikileaks.

Jadi, rasanya manuver Wikileaks ini baru masuk akal kalau punya motif politis di baliknya. Karena kalau tidak, maka untuk apa ini dilakukan? Apakah benar misi ini murni untuk “media yang kuat dalam rangka membentuk dunia yang demokratis”? Adakah jurnalis hari ini yang seidealis itu sembari mempertaruhkan nyawanya untuk idealismenya? Untuk apa? Mungkinkah?

Mungkin saja. Namun rasanya kita perlu beberapa fakta lagi untuk membuktikan kebenaran kemungkinan tersebut.

Di sisi lain, ada selentingan kabar bahwa ternyata Wikileaks mengadakan hubungan koordinatif dengan pihak Deplu AS. Koran Jomhouri Eslami cetakan Tehran, Senin (6/12) menulis, “Di tengah kegusaran para pejabat AS atas bocornya sejumlah kawat diplomatik di situs WikiLeaks, sejumlah pemimpin redaksi senior majalah Newsweek menegaskan bahwa ada koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri AS dalam merilis dokumen-dokumen tersebut.”

Dikatakan bahwa pihak pemerintah AS mensortir dokumen-dokumen yang akan  dipublikasikan oleh Wikileaks. Ini fakta mengejutkan, karena kalau memang berita terakhir ini benar, lalu pertanyaannya : untuk apa AS membongkar aib-aibnya sendiri? Bahkan konon lingkaran Obama pun belum memperlihatkan tanggapan serius terhadap Wikileaks, hal ini semakin menebalkan kabut yang melingkupi sindikat kumpulan hacker itu.

Rasanya kita masih mesti menunggu satu per satu peristiwa menyingkap kabut itu, sementara satu per satu aib para penguasa, bukan hanya AS melainkan juga rezim-rezim sekuler di dunia Islam, dibongkar oleh Wikileaks. Seperti pengadilan akhirat saja.[]

 

  1. Informasi memang bisa menjadi senjata yang lebih berbahaya dari pistol dan senjata lain ya

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.