“Ahlul Islam wal Jama’ah”

Tempo hari saya membeli sebuah buku yang menarik perhatian saya karena judulnya yang menurut  saya provokatif, “Aku Bukan Salafi”. Benak saya bertanya-tanya, ini buku sebuah deklarasi anti-salafikah? Atau semacam diari kader sakit hati yang disepak keluar dari kumpulannya?

Pertanyaan saya tersebut segera mendapatkan jawabannya setelah kover buku itu memberitahu lewat tagline-nya,”kalau salafi adalah mencaci, bla..bla…maka saksikanlah bahwa aku bukan salafi”. Kira-kira begitu. Setelah membuka lembar demi lembar, rupa-rupanya penulisnya orang salafi juga. Yang bersangkutan menulis buku ini sebagai klarifikasi atas berbagai tuduhan dan stigma jelek yang kadung dilekatkan orang pada kelompok—sebenarnya mereka tidak mau disebut sebagai kelompok—salafi. Istilah kerennya, buku ini adalah “buku putih salafi”.

Sebagaimana maklum pada sebagian kita yang pernah berinteraksi dengan pikiran-pikiran salafi lewat bertemu langsung dengan orangnya atau lewat bacaan-bacaan di majalah, buku dan inernet, kelompok salafi mempopulerkan kata bid’ah dan ahlul bid’ah untuk menyerang siapapun yang tidak sejalan dengan pendapat mereka atau siapapun yang pendapatnya tidak merujuk pada ulama-ulama mereka. Bahkan, sesama salafi pun bisa saling membid’ahkan kalau rujukannya ternyata “beda syekh” atau “beda ustadz”.

Nah, sang penulis mencoba menjelaskan bahwa sikap tersebut adalah sikap yang salah. Lalu ia menjelaskan arti salaf, salafi dan pemahaman yang benar tentang salafi dan ahlus sunnah wal jama’ah. Intinya, ia ingin berpesan bahwa perbedaan pendapat di kalangan salafi tidak seharusnya disikapi dengan saling membid’ahkan karena makna salafi alias ahlus sunnah wal jama’ah itu luas.

Catat ya, “perbedaan di kalangan salafi”, bukan di kalangan umat Islam. Jadi terhadap umat Islam yang tidak salafi, saya masih memasang tanda tanya: masihkan ia menyebutnya ahlul bid’ah? Meskipun sang penulis terlihat mencoba menempuh jalur moderat dalam memahami salaf dan salafi, namun masih terasa “ashabiyah (fanatisme kelompok)”nya. Misalnya, ia masih menyempitkan arti kelompok ahlus sunnah  kepada kelompok yang merujuk pada segelintir ulama yang rata-rata menjadi rujukan semua golongan salafi, seperti Syekh al-Albani, Syekh al-Utsaimin, Syekh bin Baz dan sederet ulama Saudi lainnya. Sampai titik ini, harapan saya menemukan seorang salafi yang lebih luas cakrawalanya dari salafi pada umumnya pada diri sang penulis, pupus.

Maka, sehabis membaca buku itu, tetap saja segelontor gugatan itu masih ada. Pertama, mengapa hanya ahlus sunnah saja yang benar? Apalagi, yang disebut ahlus sunnah oleh kelompok salafi bukanlah definisi yang mencukupkan diri pada arti umum “orang-orang yang berpegang pada sunnah Rasulullah saw”, melainkan orang-orang yang memegang pemahaman tertentu dalam teologi, akhlak dan fikih, dari para “ulama ahlus sunnah” yang recomended. Maka gugatan keduanya adalah, apakah arti ahlus sunnah sesempit itu? Hingga seakan-akan saya sampai sekarang ini belum menjadi ahlu sunnah dan terancam masuk neraka karena terkategori ahlul bid’ah, hanya karena tidak merujuk pada ulama-ulama yang direkomendasikan.

Rasanya, tidak ada keharusan untuk mendefinisikan diri sebagai pengikut ahlus sunnah, apalagi di tengah ketidakjelasan apa dan siapa ahlus sunnah itu, karena semua orang mengklaim sebagai ahlus sunnah dan menyalahkan ahlus sunnah yang lain. Sejatinya, sisi identitas yang lebih kritis pada umat, secara lebih mendasar, adalah ke-Islamannya, bukan ke-ahlusunnah-annya. Serbuan pemikiran, nilai-nilai dan budaya Barat menohok sisi yang lebih fundamental dari “sekedar” firqoh atau aliran, yakni sisi identitas sebagai seorang muslim.

Oleh karena itu, alih-alih ahlus sunnah wal jama’ah, yang lebih dibutuhkan oleh umat saat ini adalah “ahlul Islam wal jama’ah”, pembela-pembela Islam yang mengembalikan umat Islam pada ke-Islamannya, membangkitkan lagi kebanggaan sebagai orang Islam, jati diri sebagai penganut Islam. Itu lebih penting ketimbang mengidentifikasi aliran keagamaan setiap orang.

Saya sama sekali tidak sedang mengecilkan arti para ulama yang disebut ulama ahlus sunnah. Para syuyukh di Saudi dan di manapun adalah pelita umat yang menempati kedudukan mulia di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Tidak juga saya melupakan jasa besar ulama-ulama ahlus sunnah di masa lalu dalam membetulkan pemahaman umat dari racun kelompok-kelompok ahli kalam semacam Mu’tazilah, Qadariyah dan Jabariyah. Tidak sama sekali. Saya, sebagai warga Islam dunia, hanya ingin sedikit berandai-andai: dapatkah kita mempercayai Syariah yang cocok sepanjang zaman ini, tanpa lagi mengungkit-ungkit perpecahan umat di masa lalu? Dapatkah kita mengoptimalkan lagi ijtihad, tanpa lagi menyertai tendensi sektarian?

Ini bukan angan-angan pengisi waktu luang. Musuh-musuh kita sudah maju sedemikian rupa hingga meninggalkan kita secara materi dan bahkan menjajah kita. Tidak malukah kita—sementara umat sedang ditimpa kerusakan aqidah, kemiskinan dan penjajahan—jika masih saja sibuk berdebat: saya aliran apa dan kamu aliran apa?! []

    • defri
    • Juni 22nd, 2010

    renungkanlah kembali, sesungguhnya kita ingin meniru rasulullah saw atau mencipta ajaran baru(mengambil selain dr rasulullah atau modifikasi?), kebenran ada pada diri rasulullah saw, beliau adalah teladan mutlaq bg setiap muslim, semakin dekat kita mencontohnya semakin benarlah keislamanya…pertanyaan yang sering muncul dibenak saya adalah ” jika saya hidup dizaman rasulullah saw dengan mengikuti segala peristiwanya baik pemikiran, diamya dan perkataan rasulullah saw, apakah saya mampu mengimani beliau? Karena banyak yang bertolak belakang dengan kehidupan di zaman itu? bagaimana dengan sekarang…semoga aqu tetap berlindung dari godaan syethan yg terkutuk..wallahualam bis sawab

    • ismailmarzuki
    • Agustus 17th, 2010

    assalamualaikum kang,
    numpang lewat ya kang, tulisannya mantap pisan…
    salam ya sama teman2 yang lain.
    wassalam

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.