Ini Tentang Harga Diri

Kita, hanya perlu bertanya pada diri sendiri: pantaskah kita bersalaman dengan utusan dari negeri yang tak peduli dengan nilai-nilai yang dianutnya sendiri: HAM, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan??

Barangkali kita sebagai orang Indonesia merasa mendapatkan figur dari sosok bernama Obama ini. Ia ramah, hitam dan pandai orasi. Kata-kata “dari Menteng ke Gedung Putih” memberikan sensasi kebesaran tersendiri bagi bangsa yang sekian lama kehilangan sosok yang dapat dianggap karismatik, berwibawa dan hebat, bangsa yang bertahun-tahun dicitrakan lemah SDM, korup dan terpuruk. Keberadaan Obama memantik kekaguman diri sendiri, “ternyata ‘orang Indonesia’ pun bisa jadi presiden negara adidaya.” Kita memang sedang haus figur Indonesia yang bisa dibanggakan, walaupun dia bukan benar-benar orang Indonesia.

Kehausan yang lain adalah kehausan global akibat “kejutan-kejutan” yang ditampilkan pendahulu Obama, George W Bush. Terpilihnya Obama sebagai pengganti Bush bak hujan setelah kemarau panjang. Orang lalu mengelu-elukannya. Si “bocah hitam kurus” ini melampaui idealismenya, mengatasi masa inferiornya sebagai ‘ras hitam’, lalu meraih tampuk pimpinan untuk mewujudkan mimpi-mimpi Amerika yang tertunda, dan bahkan, bagi dunia, ‘mengembalikan’ Amerika yang penolong, Amerika yang menjadi ‘kakak bangsa-bangsa’.

Namun sayangnya kita tidak sedang membaca novel tentang keberhasilan yang mengharukan, atau tentang tokoh yang unik dan terpilih zaman untuk memukau dunia. Kita hidup di alam fakta-fakta, bukan sekedar kata-kata dan mimpi-mimpi. Barangkali orasi-orasi Obama ketika pemilu AS yang lalu membuat kita terpukau dan bahkan menangis, namun darah anak-anak Gaza di saat-saat pelantikan Obama, lebih banyak berbicara tentang cara Amerika memandang dan memperlakukan dunia. Mungkin mimpi Obama yang demokrat untuk membangun mutual respect dengan dunia Islam adalah oase di tengah gersangnya imperialisme ala republikan-neokon, namun pesawat-pesawat yang memuntahkan peluru-peluru di udara Pakistan Barat, memberitahu kita tentang ‘respek’ negara adidaya itu terhadap orang-orang yang mencoba membela yang benar.

Hingga kini, ‘mutual respect’ yang dijanjikan itu hanya bersanding dengan berita-berita tentang penambahan pasukan di Afghanistan, serangan di Waziristan yang menawaskan puluhan warga sipil , dan seterusnya. Maka sebuah pertanyaan yang tidak akan terjawab akan mengemuka, “mengapa antara wajah dan punggung berbeda? Antara ucapan dan tindakan bertolak belakang?” Amerika-nya Obama lebih membingungkan dibanding Amerika-nya Bush.

Kita, tidak perlu memusingkan pertanyaan itu. Kita, hanya perlu bertanya pada diri sendiri: pantaskah kita bersalaman dengan utusan dari negeri yang tak peduli dengan nilai-nilai yang dianutnya sendiri: HAM, keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan?? Aksi penolakan kita terhadap kunjungan Obama bukan reaksi emosional, bukan pula wujud keburuksangkaan. Ini tentang harga diri sebuah umat yang dilecehkan, juga tentang rasa keadilan umat manusia sedunia yang seolah ditendang keluar lapangan. Ini adalah wujud izzah, kita hendak memperlihatkan bahwa kami, orang-orang Islam, memasang dada dan berdiri di garis terdepan membela kemanusiaan, keadilan dan kemerdekaan di saat kalian, Barat, hanya mengulum kata-kata itu di mulut saja!![]

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.