MENTAL DISORDER
Saya tidak tahu persis definisi dari istilah di atas. Namun saya ingat kapan pertama kali membaca istilah itu, yakni ketika saya membaca riwayat hidup novelis masyhur asal Jerman, Karl May. Ia menulis berjilid-jilid novel berlatar kawasan wild west Amerika Serikat zaman koboy. Setiap deskripsinya tentang alam Amerika ia sampaikan dengan sangat detil, membuat pembaca menduga bahwa lakon utamanya bahkan dia sendiri, atau at least ia pernah ke Amerika. Tetapi sebetulnya ia tidak pernah menginjak tanah Amerika sekali pun sampai wafatnya.
Karl May lalu didakwa menderita sejenis gangguan jiwa, yang membuat penderitanya berhalusinasi hebat. Penyakit jiwa semacam kejiwaan ganda ini lalu disebut oleh ahli kejiwaan sebagai mental disorder, kekacauan mental. Barangkali penyakit ini memang berkonotasi buruk. Namun baik psikiaternya, orang-orang yang menuduhnya sakit jiwa, atau orang yang menjebloskannya ke RSJ tidak pernah mencapai prestasi sehebat Karl May. Novel-novelnya yang inspiratif dan sarat muatan pesan moral itu masih dibaca bahkan seabad setelahnya.
Untuk kasus May, mental disorder mungkin membuat si empunya penyakit melahirkan kreativitas hebat. Tapi tidak untuk kasus Lutfi Asy Syaukani. Bukannya kreativitas yang lahir, melainkan kesesatan. Dengan pongahnya, sewaktu membahas gugatan terhadap UU Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu, berkata bahwa kesalahan Lia Eden sekarang sama dengan kesalahan Nabi Muhammad saw ketika kelahiran Islam! Subhanallah! Dari mana ia dapat pemikiran sesat seperti itu?
Kalau dia mengaku liberal murni sih tidak masalah. Tapi pentolan JIL ini masih mengaku beragama Islam, memakai istilah Arab di namanya dan setidaknya masih mencantumkan kata ‘Islam’ pada komunitas yang dibinanya: ‘Islam Liberal.’ Mereka, para penganut Islam Liberal, berbicara dalam bahasa kita orang Islam, meluncurkan ayat-ayat Qur’an untuk mendukung gagasan-gagasannya. Lebih jauh, mereka membuat tafsir sendiri, menyusun ulumul Qur’an dan ushul fiqh sendiri, dan bahkan mengagas teologi sendiri (lihat ‘Teologi Negara Sekular’ di situs resmi mereka). Wow! Kreativitas yang luar biasa…atau tepatnya halusinasi yang mengenaskan!
Inilah contoh orang yang, menurut Hafidz Abdurrahman dalam ‘Islam Politik Spiritual’, menjangkit kepribadian yang kacau. Ia mengaku beraqidah Islam, tapi aqliyah dan nafsiyahnya liberal. Personality-nya split, atau…dalam bahasa Islam…syakhsiyah-nya fasad. Dalam bahasa psikologi: mengalami mental disorder! Mengaku Islam tapi berpikiran Eropa. Kakinya berpijak di timur, tapi kepalanya ada di Barat. Kata-katanya mencatut ayat suci, tapi gagasan kaum orientalis yang diusungnya.
Padahal, Islam mencetak kita menjadi orang berkepribadian unik, yakni antara aqidah (keimanan) dan aqliyah (pola pikir) serta nafsiyah (pola jiwa) sejalan. Klop. Namun sekedar unik saja belum cukup, karena orang yang aqidahnya liberal dan aqliyahnya juga liberal, bisa disebut kepribadiannya unik. Maka, lebih jauh, Islam menyuruh kita menjadi orang yang mustanir (tercerahkan) lewat perenungan yang mendalam terhadap manusia, alam, kehidupan, dan Tuhan.
Kalau perenungannya betul, pasti sampai ke kesimpulan yang betul, bahwa hidup ini akan berlanjut ke akhirat. Bahwa di sana kita diminta pertanggungjawabannya atas segala perkataan di dunia. Orang yang mustanir tidak sembarang bicara, apalagi sampai ucapannya menghina Nabi saw, melecehkan Islam, dan menyakiti hati saudara-saudaranya sesama muslim.[]
Belum ada trackback.