Andai Minke (masih) Hidup
“Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan!”
-cover belakang novel Jejak Langkah by Pram.
Harusnya memang program wajib belajar bukan hanya ditujukan pada rakyat, tapi juga pada penguasa. Terutama bukan karena buta huruf, tapi karena buta nurani. Kata Dr Ir Muslimin Naution, pasal 27 s.d. 34 UUD’45 menunjukkan bahwa secara konstitusional negara ini menganut ekonomi Syariah. Tapi, jauh panggang dari api. Kwik Kian Gee sampai menulis buku berjudul “Indonesia Menggugat Jilid II”, meyerupai judul pidato Bung Karno di hadapan hakim kolonial di Bandung pada tahun 1930 tentang gugatannya atas neoliberalimenya pemimpin negara ini.
Ya, menggugat, itu perlu. Kalau kebijakan liberal pemerintah ini–dan akan tetap liberal setidaknya sampai 5 tahun ke depan–terus memiskinkan rakyat ini, membiarkan asing sampai bisa menanamkan >90% sahamnya di sini, sampai mereka bisa mengontrak lahan kita hingga 94 tahun lamanya–layaknya Hongkong yang dikontrak Inggris–bukankah ini menggerus nurani kita? Dan patut digugat? Dilawan?
Lawan dengan apa? Minke menjawabnya dengan cerita hidupnya. Empat buku Tetralogi karya Pram itu membuat seakan Minke memang hidup berjalan-jalan di hadapan saya. Selepas DO dari Stovia, ia menjadi aktivis-jurnalis, pelopor pada jalannya. Lewat Medan Prijaji, ia sebarkan semangat dan gagasan nasionalisme Hindia-nya, atau ‘Indoensisch Nationalism’, kata M. Natsir. Dengan semangat yang sama, dibentuk pulalah Syarikat Dagang Islam, yang kemudian menjadi Syarikat Islam, orpol pertama yang berwawasan lintas bangsa, yakni Hindia. Islam melekat pada perintisan Indonesia Merdeka. Ruhnya menjadi pemersatu bangsa-bangsa di Hindia, mengikis fanatisme kebangsaan.
Cerita tentang Syarikat Islam adalah mukadimah dari semua kisah tentang perjuangan menuju kemerdekaan, tentang Soempah Pemoeda, tentang Soekarno, dan seterusnya hingga proklamasi. Syarikat Islam mengawali adanya gagasan tentang Indonesia.
Andai dia ada, dan masih hidup, dan andai ia memang sebetulnya adalah Tirto Adhi Suryo, pelopor pers nasional itu, maka apa yang ia katakan tentang negeri ini?
Mungkin…”bangsa yang tidak tahu berterima kasih. Bertahun-tahun kita berjuang dengan nama Islam, agar bangsa ini menjadi rumah yang nyaman, yang diatur dengan tangan sendiri. Bertahuh-tahun Mas Tjokro (HOS Tjokroaminoto) dan tokoh2 Islam lain mengawal kemerdekaan negeri ini agar kelak diterapkan aturan Allah agar negeri ini diberkahi. Tapi sekarang kalian membuat semuanya terbalik. Negeri ini kembali terjajah, dan aturan Allah kalian ganti dengan ideologi murahan. Apakah kalian hendak mengkhianati kami?!”
Mas Minke, Mas Tjokro, saya turut berduka cita…[]
Kasihan sekali sekarang, Indonesia d pimpin oleh sistem Kapitalisme Demokrasi. Harapan ummat hancur, dan qt msh d jajah. Mana kemerdekaan yg d banggakan? NIHIL, tp kebnyakan bangga dg keterjajahan ini, pemerintahan sekarang spt kerbau yg d cocol hidungx, mau saja d suruh2 atw d perintah olh asing. Hanya dg Islamlah Indonesia dan seluruh dunia bisa aman.