Beranda > politik > Matematika Kemenangan

Matematika Kemenangan

Lebih baik menunda kemenangan secara sengaja, daripada kita merebutnya untuk kemudian dilepas dalam waktu singkat bersama datangnya badai.

refahSetiap momen politik adalah celah sejarah. Dalam konteks Indonesia, reformasi 1998 adalah contoh terdekat bagaimana sebuah celah sejarah terbuka dan semua komponen dari latar belakang ideologi yg berbeda berebut bermunculan, dari bawah tanah menuju pucuk pohon, dari pinggir bergeser ke tengah, ke pusat-pusat perumusan kebijakan.

Dalam konteks pergerakan Islam, setiap momen politik berarti tantangan untuk menghitung : seberapa besar peluang untuk melompat ke kekuasaan? Pemilu, misalnya, di alam demokratis seperti sekarang akan menjadi momen politik lebih random posibilitas kondisi pascanya dibanding pemilu di masa Orde Baru dulu.

Konsekuensi menghitung tadi adalah rekomendasi, manfaatkan momen ini atau tidak. Lompat atau jangan. Masuki celah atau mengambil waktu lebih lama menunggu celah ini terbuka lebih lebar. Dan karena tidak hanya ada satu pergerakan Islam di negeri ini, maka cara menghitung dan hasilnya pun berbeda-beda. Itu sebabnya, di pemilu 2009 ini perdebatan tentang partisipasi ini masih juga berlangsung. Polemik tentang golput semakin meruncing.

Untuk Apa Kita Menang?

Ada tiga tangga yang harus dilalui setiap Gerakan Islam untuk mewujudkan cita-citanya menerapkan Syariat Islam. Pertama, tangga penegasan identitas kelompok. Tangga ini dipasang lewat proses ideologisasi Islam dan internalisasi ideologi tersebut di benak para pengembannya.

Tangga kedua adalah memenangkan legalitas umat. Masyarakat harus sadar bahwa dakwah sedang hadir mengetuk pintu umat dan bermaksud membebaskan umat dari belenggu pemikiran, politik dan ekonomi yang fasad menuju cahaya Islam. Tangga ketiga adalah meraih kepemimpinan negara. Hal ini tercapai manakala trust sudah terbangun lewat pembentukan public opinion dan gerakan sudah memiliki agenda yang jelas untuk menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan.

Lompatan dari tangga kedua ke tangga ketiga inilah yang krusial, di mana gerakan Islam akan dihadapkan pada dua kemungkinan : pertama, berhasil melompat dan berkuasa, lantas menjalankan agendanya, yakni menerapkan Syariat. Kedua, berhasil melompat namun terjebak arus politik sekuler. Ketiga, gagal melompat dan jatuh untuk kemudian habis.

Sejarah umat telah mempertunjukkan skenario ketiga lalu kedua. Kasus Partai FIS (Front Islamique du Salut) di Aljazair adalah fenomena menyedihkan. Ia mencoba melakukan lompatan dengan jalan memenangi pemilu dengan suara telak, 80%. Namun itu bukan keberhasilan, karena belum sempat mewujud menjadi kekuasaan, suara sebesar itu hanya berumur hari. FIS diberangus oleh militer.

Tragedi Hama di Suriah adalah contoh yang sama untuk kemungkinan ketiga. Pada tahun 1978, Ikhwanul Muslimin mencoba melakukan lompatan politik dengan mengumumkan revolusi. Namun ia gagal, Hafezh Al-Asad berdiri kokoh bagai singa, lalu menerkam lawan politiknya ini. Sepuluh ribu nyawa melayang.

Pun kasus-kasus lain masih banyak yang bisa disebut. Di Indonesia, boleh disebut Peristiwa DI/TII, Tanjung Priok, pemberangusan Masyumi, dan lain sebagainya.

Barangkali belajar dari pengalaman buruk ini, gerakan-gerakan Islam lantas mencoba melakukan lompatan politik ini lewat pendekatan yang lebih akomodatif. Misalnya Sudan, di mana Partai Islam berhasil menang di pemilu lalu berkuasa. Namun pasca berkuasa tidak ada terobosan radikal terhadap tatanan status quo yang justru menjadi cita-cita awal gerakan. Konflik horizontal terjadi dan negara gagal menyelesaikan. Tema besar ‘Islam adalah solusi’ menjadi bumerang : gerakan Islam tidak berhasil membuktikan slogannya itu.

Maka pengusungan terhadap slogan ‘Islam adalah solusi’ dihindari demi keselamatan gerakan. Partai AKP di Turki adalah contohnya. Di sana, golongan sekularis yang dibentengi militer menjadi kingmaker yang menentukan. AKP memang menang pemilu, namun setelah pimpinannya mengatakan bahwa ia menjunjung demokrasi dan sekulerisme Turki.

Ini yang saya maksud sebagai skenario kedua, di mana gerakan Islam mendapat kemenangan semu, karena ia lantas terjebak dalam drama yang didalangi oleh lawan. Di Indonesia, Partai Islam yang masih mengusung Syariat menyusut ditelan zaman, sementara yang masih eksis memperbesar tubuhnya dengan cara melepaskan seluruh atribut ke-ideologi islam-an dari pakaiannya.

Akhirnya, Partai Islam tidak lagi bisa dibedakan dari Partai sekuler. Ia memang berpotensi menang, namun cita-citanya tercecer di jalan. Bukan hanya slogan, namun bahkan tujuan menegakkan Syariah dikubur dalam-dalam.

Lantas, pertanyaannya, untuk apa kita menang? Kalau menang sedemikian penting dan untuk itu harus bersedia mengkompromikan tujuan, dapatkan Partai Islam menunjukkan ayat atau hadits yang mewajibkan menang? Yang ada adalah bahwasanya kemenangan adalah buah dari ketaatan pada Syariat. Ini seharusnya menjadi pertanyaan mendasar. Karena kita harus berpikir mendahului realitas : apa yang terjadi kalau kita menang?

Berpisahnya Kemenangan dengan Kebenaran

Mengklaim bahwa kemenangan partai kita adalah kemenangan umat adalah pembajakan nama umat. Karena jika dengan suara yang sedikit lebih banyak saja partai Islam tidak mampu bahkan untuk sejedar memprotes kebijakan yang tidak Islami, dan justru ikut terwarnai dan menyetujui kezaliman,—sebagaimana yang ditunjukkan oleh partai Islam dalam periode 2004-2009—maka sebesar apa perubahannya jika memang di 2009 ini kita memperoleh suara sedikit lebih besar?

Adakah jaminan bahwa tujuan penegakkan Syariat akan—minimal—didekati dan bukannya semakin menjauh?

Barangkali alasan lain untuk menang walaupun menyembunyikan (meninggalkan?) tujuan adalah keharusan adanya ‘kondisi eksternal’ yang membuat gerakan dakwah lebih nyaman bergerak. Maka, jika ada sekian persen anggota parlemen dari partai Islam atau bahkan dapat mengusung calon presiden yang ‘paling sedikit keburukannya’, gerakan Islam akan aman karena tercipta semacam ‘payung politik’.

Benarkah? Pertanyannya, di mana batas antara mewujudkan ‘payung politik’ yang aman dengan menyokong sistem dan penguasa yang salah? Apa indikator yang membedakan antara ‘kitalah yang mengendalikan koalisi’ dengan ‘mereka memanfaatkan ke’ikhlas’an kita untuk menyokong rezim sekuler mereka’?

Inilah yang dikhawatirkan oleh Sayid Qutb, di mana gerakan Islam hanya (justru) membantu masyarakat jahiliyah. Kemenangan partai Islam bukan untuk Islam, tapi untuk menjadi salah satu keping puzzle dari gambar sistem sekulerisme.

Penyakit-penyakit Gerakan Islam

Kebanyakan pengalaman pahit umat Islam adalah akibat dari kondisi eksternalnya sendiri. Dua kondisi ekstem yang dialami gerakan Islam : pemberangusan dan kelarutan dalam sistem sekuler adalah akibat dari kerusakan dalam anatomi gerakan. Inilah di antara penyakit-penyakit itu:

  1. Memandang kemenangan hanya dari kursi kekuasaan. Ketika menafsirkan kemenangan hanyalah suara mayoritas di parlemen, tanpa memperhitungkan bahwa militer pun memiliki kekuatan, maka kasus FIS-lah yang bisa menjadi pelajaran bagi kita. Ketika kemenangan ditafsirkan akan tercapai hanya jika berhasil menumbangkan penguasa, kasus tragedi Hama bisa menjadi contoh kesalahan persepsi tersebut.
  2. Kebanyakan gerakan Islam tidak memiliki kesiapan ‘infrastruktur pemikiran’ untuk menyongsong kemenangan. Apa konsep negara yang ditawarkan gerakan-gerakan Islam? Nihil. Akhirnya mereka terpaksa mengadopsi konsep Barat dan menafsirkan ‘islam huwa ad-diin wa ad-daulah’ sebagai ‘mari perbaiki negara’, bukan ‘mari mengubah negara’, terkesan sebagai gerakan moral dibanding politik. Inilah yang menyebabkan gerakan-gerakan itu jatuh setelah melompat atau menegasikan kemenangan karena menyokong tatanan status quo. Hal ini membuktikan pendapat John L. Esposito, bawasanya kemenangan partai Islam tidak perlu dikhawatirkan, karena biasanya mereka akan turun sendiri seteleh menang.
  3. Sikap terburu-buru untuk berkuasa. Menganggap bahwa momen pemilu ‘sayang’ untuk dilewati membuat gerakan Islam berbuat melebih kemampuan. Pandangan bahwa ‘dakwah harus masuk ke kekuasaan’ tidak disertai pertimbangan bahwa tatanan sekuler punya mekanisme tersendiri untuk mengeliminir virus, bahkan menetralkannya. Konsekuensinya : mati atau kompromi. Di tahun-tahun belakangan, pilihan terakhirlah yang diambil oleh partai Islam.
  4. Terlalu fleksibel dalam metode perjuangan. Terlalu sentimen terhadap kondisi aktual menjadikan gerakan Islam menjadi reaktif kalau tidak dibilang serampangan dalam bertindak. Buahnya adalah ketidaksabaran, lalu bersedia meletakkan idealisme demi kekuasaan.

Mempertemukan Kemenangan dengan Kebenaran.

Jadi, gerakan Islam telah mengalami skenario kedua dan ketiga. Nah, pertanyaannya, bagaimana agar skenario pertama-lah yang dicapai? Dan, jika skenario pertama belum bisa tercapai, apa yang harus kita lakukan?

Saya ingin menjawab pertanyaan yang terakhir terlebih dahulu. Pertanyaan inilah yang lantas menimbulkan polemik : jika kondisi ideal belum bisa terwujud sekarang, apakah lantas kita akan golput saja atau mewujudkan setidaknya kondisi terbaik di antara yang terburuk?

Menjawab pertanyaan ini harus didahului dengan kesadaran bahwasanya keterjebakan gerakan Islam pada skenario kedua dan ketiga selama bertahun-tahun telah menguras energi gerakan. Alih-alih mencapai tujuannya, gerakan Islam semakin menjauh dari cita-cita awalnya, karena setiap kali jatuh, setiap kali itu pulalah gerakan harus memulai lagi dari nol. Umat terkesan menjadi bahan percobaan politik, dan nasib mereka tidak kunjung berubah. Kebodohan, kemiskinan, kemaksiatan, perampokan sumber daya alam masih menjadi kesaharian umat walaupun di beberapa negara muslim gerakan Islam sudah memegang kekuasaan.

Bahkan, memasuki abad 21, Amerika Serikat sang adidaya berhasil menyempurnakan hegemoninya lewat bahasa ekonomi yang bernama globalisasi, bahasa politik yang bernama demokratisasi, dan bahasa militer yang bernama invasi. Dan pergerakan Islam yang telah memulai perjalanannya tiga perempat abad yang lalu sama sekali tidak berdaya di hadapan serbuan peradaban yang canggih itu. Semua lawan masuk dalam perangkapnya, tak terkecuali gerakan Islam yang terperosok dalam dua sisi ektrem : angkat senjata lalu dicap teroris, atau masuk ke pusaran sistem sekuler lalu berkompromi.

Jadi, jika kemenangan yang dicita-citakan di pemilu 2009 nanti hanya akan mengulang kesalahan yang sama—akibat berbagai faktor ketidaksiapan yang saya kemukakan di atas, lantas untuk apa menang? Bahkan, mengutip Anis Matta, lebih baik menunda kemenangan secara sengaja, daripada kita merebutnya untuk kemudian dilepas dalam waktu singkat bersama datangnya badai.

Lantas bagaimana kita merancang skenario pertama?

Kemenangan secara sempurna untuk mendapatkan kekuasaan guna menerapkan Syariah hanya akan dicapai lewat bertemunya kekuatan dengan dominasi kebenaran. Namun sebelum itu terjadi, empat penyakit gerakan Islam saya kemukakan di atas harus dibersihkan:

  1. Kemenangan tidak diawali dari perebutan kursi kekuasaan, melainkan dari tangan umat, pemilik hakiki kekuasaan. Inilah yang disebut taghyir an-thariqil ummah (perubahan lewat jalan umat). Mendapatkan mandat dari umat untuk memimpin menegaskan kekuasaan yang tidak mungkin digoyang. Ini berbeda dengan kemenangan yang dicapai lewat pemilu atau kudeta militer.
  2. Gerakan Islam harus memiliki konesp yang jelas dalam semua aspek bernegara, dimulai dari konsep negara yang khas dan original yang digali dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Juga konsep ekonomi Islam, hukum, budaya, politik luar negeri dan sebagainya. Gerakan Islam juga harus memiliki mekanisme yang jelas untuk mengangkat penguasa dan metode yang aplikatif untuk menerapkan konsep tersebut. Dengan begitu, gerakan Islam siap untuk mengatur negara yang akan terbentuk nanti dan tidak terjebak untuk memainkan mekanisme politik status quo. Ini juga meniscayakan adanya komunitas intelektual sebagai core gerakan.
  3. Gerakan Islam harus meyakini bahwa kemenangan itu adalah faktor pertolongan Allah yang akan datang ketika sebab-sebabya telah terpenuhi. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa. Peradaban yang akan kita bangun bukanlah peradaban yang berdiri satu hari lalu jatuh esoknya. Besarnya peradaban Islam sebanding dengan investasi waktu yang kita habiskan saat ini.
  4. Keteguhan memegang metode perjuangan menjadi rahasia keberlanjutan perjuangan. Gerakan Islam tidak boleh reaktif terhadap keadaan dan harus bersabar untuk tidak bertindak sebelum waktunya.

Nah, biasanya perubahan besar seperti ini hanya menemukan kenyataan pada kata ‘revolusi.’ Baiklah, jadi kita ingin merancang revolusi. Namun, revolusi yang mendasar dan menyeluruh, seperti yang sudah saya utarakan, hanya akan tercapai jika kekuatan bertemu dengan dominasi kebenaran.

Bagaimana membentuk dominasi kebenaran? Jawabannya satu : dakwah. Spesifiknya : membentuk ra’yul ‘am yang berpihak kepada Islam. Ini dicapai lewat penyadaran terus menerus. Umat perlu dipahamkan tentang konsep Islam seluruhnya. Hasil akhirnya adalah konsep Islam itu hidup dalam alam pikiran umat dan mereka terdorong untuk merealisasikannya.

Kekuatan yang saya maksud adalah pusat-pusat penentu jalannya masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan ahlul-quwah. Secara garis besar, ahlul quwah itu adalah militer, media massa, dan tokoh-tokoh umat.

Nah, jadi kesiapan revolusi kita diukur melalui indikator-indikator tadi:

  1. Sejauh mana opini-opini kita sudah menjadi perbincangan di media massa? Sebanyak apa kegiatan-kegiatan dakwah yang diliput oleh media massa? Sebanyak apa tulisan-tulisan kita dimuat di koran dan majalah? Atau, apakah media massa yang kita buat sudah bisa mempengaruhi opini publik? Nah, kriteria ‘sudah bisa mempengaruhi’ ini pun masih butuh kajian lebih lanjut.
  2. Berapa banyak tokoh-tokoh umat, baik formal maupun informal yang berpihak pada gagasan kita? Berapa banyak ulama, tokoh ormas, politisi, pengusaha dan akademisi yang pro gerakan kita?
  3. Apakah militer sudah terdakwahi dan dapat dipastikan tidak akan menganggu jalannya perpindahan kekuasaan manakala umat sudah siap nanti?

Barangkali revolusi Islam identik dengan Iran. Tapi revolusi 1979 itu masih perlu dipertanyakan : sejauh mana perubahan tatanan yang terjadi pasca revolusi? Apa akibatnya pada konstelasi perpolitikan global? Kalau Afghanistan dan Irak yang menjadi tetangganya saja tidak mampu ia selamatkan, maka kesiapan gerakan itu dipertanyakan.

Karena kesiapan kesadaran umat, pemikiran, dan dukungan alul quwwah akan memudahkan kita mencipta sumber daya yang dibutuhkan setelah khilafah tegak, instrumen-instrumen pengaman sosial dan budaya, perangkat keberlangsungan hukum, dan ketahanan regional kita.

Jika begitu, revolusi kita ini terlalu agung untuk dikorbankan lewat pemilu nanti. Pilihan kita hanya satu : meninggalkan semua bentuk kesalahan gerakan, dan meniti jalan sabar menuju perubahan total itu.Wallahu A’lam.[]

Cikutra, 28 Maret 2009, pk. 13.31.

Categories: politik
  1. dir88gun2
    Juni 2, 2009 pukul 8:36 am | #1

    assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas? :|

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

  1. Belum ada trackback.