Beranda > ruhiyah > TUGAS SEJARAH

TUGAS SEJARAH

brainApa yang Anda pikirkan sewaktu bangun tidur? Saya teringat pada sebuah serial kartun di televisi yang diputar waktu saya kecil dulu, yang judulnya The Pinky and The Brain. Keduanya adalah tikus. Yang satu bodoh dan polos, satu lagi jenius (sesuai namanya : Brain).

Yang menarik, serial itu selalu diawali dengan adegan di mana Pinky bertanya kepada Brain, “Apa yang akan kita lakukan hari ini, Brain?”. Dan Brain akan menjawab, “seperti biasa, Pinky. Mencoba mengusai dunia…”, kalimat ini selalu ia ucapkan secara dramatis. Dan betul, setiap episodenya menceritakan petualangan Pinky dan Brain dalam usahanya menguasai dunia. Brain memiliki sesuatu yang tidak dimiliki tikus lain.

Statemen itu, ‘mencoba menguasai dunia…’, buku-buku menyebutnya visi, atau misi. Dan saya menyebutnya tugas sejarah. Yakni sebuah alasan mengapa ia hidup dan bergerak setiap harinya.

Entahlah, apakah ‘mencoba menguasai dunia’ adalah ide bagus untuk sebuah tugas sejarah, namun hanya makhluk yang telah tersadarkan tentang kerberadaannya di dunia ini yang mengerti adanya tugas sejarah yang dibebankan padanya.Makhluk ini sudah tercerahkan pikirannya, sudah mencapai fikrul mustanir (pemikiran yang tercerahkan).

Jika seseorang menyadari bahwa Allah tidak pernah iseng untuk menciptakan dirinya, bahwa kerberadaanya dirinya bukanlah sebuah kebetulan dan kesia-siaan, maka ia pun akan menyadari bahwa dirinya unik, berbeda dari manusia lain. Dan itu berarti ada maksud Allah menciptakan dirinya. Dan itu berarti ada sesuatu yang harus dilakukan oleh dirinya di dunia ini yang belum pernah dilakukan oleh manusia lainnya, atau sudah pernah atau sedang dilakukan oleh manusia lainnya namun ia pun harus melakukannya juga demi kelanjutaan dan jalannya sejarah dunia.

Dengan kata lain, ada alasan penting dirinya hidup, di sebuah masa dan sebuah tempat dari ribuan tahun umur sejarah dan ribuan klimoter persegi luas Bumi. Itulah tugas sejarah.

The Secret menyebut-nyebut keterhubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Bahwa tidak ada satu pun individu yang hidup terpisah dari yang lainnya. Setiap kita adalah keping puzzle dari komunitas manusia, alam semesta dan kehidupan. Setiap kita adalah sebuah titik dari garis waktu yang terus menyambung jalan. Garis itu menembus dari area sebelum kehidupan dunia, kehidupan dunia, sampai kehidupan setelah dunia kelak.

Keping puzzle dan titik waktu itu adalah lencana peran yang disematkan pada setiap individu. Dan itulah tugas sejarah.

Mengapa tugas sejarah ini menjadi penting dan bahkan bagian dari denyut dunia? Karena dengannya lahir orang-orang besar. Bayangkan jika orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Dahlan, HOS Tjikroaminoto, dan lainnya tidak pernah menyadari adanya tugas sejarah yang dibebankan padanya, yakni membebaskan negerinya dari kolonialisme, bagaimana sejarah Indonesia berjalan?

Tugas sejarah membuat orang yang mengerjakannya tercatat dalam sejarah, karena ia bukan orang biasa yang hidup dengan pikiran biasa sebagaimana orang-orang biasanya hidup dan mengerjakan hal-hal biasa, lalu hilang seiring pergantian tahun. Bukan. Maka kita menyaksikan, orang-orang seperti itu abadi. Jasadnya mati, namun pemikirannya dan jasanya lebih besar dari jasadnya. Buah dari apa yang dikerjakannya kini lebih besar daripada buah yang dipetik ketika masih hidup dulu.

Demikianlah. Orang-orang ini hidup menentukan dinamika sejarah di setiap persimpangan. Mati, atau syahid, di tengah-tengah menyelesaikan tafsir fii zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb telah menuntaskan tugas sejarahnya. Tidak sempat melihat gerakan yang ia dirikan menjadi gerakan global yang berpengaruh, Taqiyuddin an-Nabhani telah menyelesaikan tugas sejarahnya. Majmu’ Fatawa menjadi sebuah rangkaian dari tugas sejarah Ibnu Taimiyah. Al-Umm adalah tugas sejarah Imam Syafi’i. Dan siapa yang tidak takjub dengan tugas sejarah yang dituntaskan Imam Bukhari, mengumpulkan ribuan hadist shohih?

Dan Muhammad Rasulullah saw, dibebankan tugas sejarah oleh Allah swt : menjadi Rasul, penyampai risalah, memerangi kulit merah dan kulit hitam hingga mereka mengatakan Tiada Ilah Selain Allah. inilah tugas sejarah terpenting sepanjang sejarah Bumi dan langit.

Dan kita? Allah memberikan garis besarnya: misimu di dunia adalah ibadah dan menjadi khalifah. Namun setiap kita memerlukan penurunan-penurunan dan perincian-perincian dari garis besar itu, agar tugas sejarah yang diemban menjadi khas dan dengan demikian dicatat sejarah. Barangkali tugas sejarah setiap kita adalah tugas yang berbeda dan belum pernah dikerjakan. Atau bisa jadi tugas sejarah setiap kita adalah menuntaskan tugas sejarah manusia sejarah di masa lalu.

Jadi temukan tugas sejarah Anda. Karena setiap pagi sabda Rasullah saw akan selalu mengiang di telinga Anda, “barang siapa yang bangun setiap paginya sementara ia tidak memikirkan nasib umat ini, maka ia bukanlah termasuk umatku.” Ia saw menagih sebuah statemen tugas sejarah dari Anda yang akan menjadi hal penting yang membuat Anda beranjak dari tempat tidur, yang menjadi alasan mengapa Anda hidup hari ini. Jadi…apa yang Anda pikirkan sewaktu bangun tidur? [] -29 Desember 2008-

Categories: ruhiyah
  1. Ahmad Ikram Djaya
    Juli 16, 2009 pukul 12:21 pm | #1

    Subhanallah. . . Islam is complete way:)

  1. Belum ada trackback.