LUPA

Seperti pepatah Arab : semua lelaki mengaku pernah bertemu Layla. Sayangnya, Layla tidak mengaku bertemu siapapun. Hari ini semua ‘calon wakil rakyat’ mengaku membela dan akan memperjuangkan rakyatnya. Tidak ada kecap nomor dua, semua partai mengaku akan mensejahterakan rakyat, berpihak pada petani, memperjuangkan hak perempuan. Semuanya.
Betul kata sebagian pengamat, bangsa ini mungkin mengidap penyakit lupa. Karena bukankah janji-janji (baca : mimpi-mimpi) itu juga yang diobral oleh mereka lima tahun lalu? Lalu bukankah setelah mereka duduk di senayan sana, yang ternyata ditelurkan adalah produk-produk hukum yang merugikan rakyat yang diwakilinya? UU Migas, UU Penanaman Modal Asing, UU Sumber Daya Air adalah di antara undang-undang yang sama sekali tidak pro-rakyat dan sangat pro-kapitalis. Lantas apa jaminan mereka tidak akan mengulang dosa yang sama?
Pun dalam hingar-bingar pencalonan pemimpin negara, penyakit lupa itu juga nampak akut. Ada seorang mantan presiden yang berambisi sekali untuk menjabat lagi. Ia mengaku membela wong cilik. Padahal semua orang tahu, di masa pemerintahannyalah aset-aset negara dijual, dan wong cilik tidak tahu bahwa mereka telah ditipu.
Kandidat lain, dengan slogan ‘lanjutkan’ berambisi meneruskan kekuasaannya. Lewat tipuan media, rakyat seperti terkena flash dari alat yang dipakai dua agen di film MIB, lupa selupa-lupanya. Harusnya ia sudah jatuh sewaktu menaikkan harga BBM tiga kali berturut-turut melampaui 100 persen. Pada masanya sumber-sumber minyak kita jatuh ke tangan asing. Namun apa yang terjadi? Dalam polling capres ia masih termasuk teratas! Rakyat mana yang lebih aneh dibandingkan rakyat yang berteriak ‘lanjutkan’ untuk kezaliman?
Sekarang kandidat-kandidat lain muncul seperti peserta Indonesian Idol. Masing-masing dengan heroisme yang unik. Retorika membumbung langit, hanya saja sudah berulang kejadian singa menjadi impoten dan bisu setelah duduk di kekuasaan. Jadi, apa mau diharap?
Alhasil, yang mengerikan adalah ketidaksadaran akan fakta yang menyakitkan ini. Lima tahun yang sudah lewat, semua masalah mesti diselesaikan lewat aksi jalanan. Jadi apa fungsi gedung parlemen?
Seandainya saja rakyat punya buku hariannya sendiri, lalu mencatat setiap tingkah laku penguasa, niscaya akan terbongkarlah sandiwara ini. Pemimpin negara yang lemah dan parlemen yang disokong kaum pemodal menjadi pintu masuk intervensi asing. Ujung-ujungnya, alam kita dikuras habis untuk kepentingan industri mereka. Dan rakyat kita yang mudah dibangkitkan berahi konsumerismenya menjadi pasar potensial bagi mereka.
Hingga harta kita habis untuk gaya hidup yang dipaksakan, sementara ketimpangan terjadi begitu tajam karena pengangguran yang tinggi akibat sektor riil yang terabaikan—ekonomi riba lebih menumbuhkan sektor non-riil. Dan moral yang jatuh menuntaskan semuanya : korupsi, pembalakan, penyelundupan, suap, tawar-menawar antara parpol dan calon kepala daerah. Semunya berlagak sembunyi-sembunyi, di bawah meja, padahal sudah sama-sama tahu, tahu sama-sama!
Dan rakyat? Kasihan memang. Jadi penonton, digiring, dijanji-janjikan, disuruh memilih, sudah itu ditinggal sengsara. Parahnya lupa pula!
Jadi, untuk ini semuakah kita memilih di 9 April nanti?! []
Komentar Terakhir