Beranda > psiko > Jembatan Cinta

Jembatan Cinta

love

Ternyata kecocokan tidak sama dengan kesamaan.

Banyak paramater untuk menilai kecocokan. Misal : hobi, minat, jurusan kuliah, tema buku yang digemari. Tapi semua itu sebetulnya bukan indikator untuk kata cocok, melainkan sama. Mudahnya, sekumpulan kunci di tangan tidak akan membuka pintu. Hanya sebuah kunci dan sebuah lubang kunci yang cocok yang dapat membuka pintu.

Justru karena itulah maka kecocokan diawali dari kekontrasan. Betulkah? Secara fitri di awal sebetulnya sudah begitu adanya. Lelaki berpasangan dengan perempuan karena memang ada kekontrasan alias perbedaan secara psikologis dan biologis. Seperti kanan dan kiri, malam dan siang, panas dan dingin. Semua sepasang kutub yang hanya bisa dijembatani dengan kata ‘cocok’. Match!

Oya? ya! Jarang sekali orang hebat berpasangan dengan orang hebat lagi. Anda tentu sudah mendengar tentang Soekarno. Tapi apa yang Anda dengar tentang istri (-istri)nya selain menjahitkan bendera merah putih? Bagi Anda yang mengenal ulama Yusuf Qaradhawi, apa yang Anda ketahui tentang isterinya? Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, siapa istrinya? Orang kaya, terus…? Sudah, tidak ada catatan lain.

Bagi Anda yang muslim, Anda tentu yakin Muhammad adalah orang yang hebat. Tapi apa yang Anda pernah baca tentang isterinya setelah Khadijah? Ya, ‘Aisyah bukanlah sosok intelektualist. Ia sangat bersahaja. Dan yang kita dengar dari sejarah semasa Muhammad saw masih hidup adalah melulu keluguan dan kekanak-kanakan ‘Aisyah.Ia baru menjadi ksatriah (bentuk mu’annas dari ksatria, hehe…)setelah Muhammad saw wafat, yakni di zaman permusuhannya dengan ‘Ali. Betul? Dan siapa dan bagaimana isteri2 beliau saw selain ‘Aisyah? Sedikit sekali catatannya, kan?

Karenanya, sebuah pasangan ideal bukan terbentuk dari pedang dan pedang, melainkan dari pedang dan sarungnya. Seperti keganasan perang yang berpadu dengan sejuknya oase. Seperti penat akibat menulis terlalu lama di depan komputer berpadu dengan bantal yang empuk dan nyaman.

Lalu apa jembatan antara cocok dan cinta?

Ini tidak kurang sulitnya. Orang bilang cinta adalah pengorbanan, dan hanya akan teruji dengan perngorbanan. Dan seseorang harus menakar semua prinsip yang ia yakini sebelum berkorban untuk seseorang. Maka, cinta sebetulnya adalah memilih. Ia tidak muncul begitu saja. Namun seseorang biasanya akan terinspirasi untuk memilih yang cocok baginya. Jadi, seperti dorongan spontan dan natural sebagai langkah selanjutnya dari kata ‘cocok’.

Tapi cinta tidak akan sempurna sebelum selesai masa baktinya, yakni seumur pasangan itu hidup. Orang bilang kesuksesan pernikahan baru terukur setelah usia pernikahan perak, yakni 25 tahun. Jadi kalau baru nikah 1 tahun, kata I love you-nya masih harus dikoreksi menjadi ‘I 1/25 love you’. Hmm…apalagi kalau belum nikah, kata ‘I love you’ itu hanya slogan semata tanpa ada aksi nyata, harusnya ‘I think probably I will say “I love you” someday’. Tapi kalau sudah khitbah (lamar) mungkin boleh bilang ‘I potentially love you, believe me!!’ Hehe…^_*

Kembali lagi ke jembatan antara cocok dan cinta…Nah, setidaknya pengorbanan itu dibuktikan dengan LOYALITAS pada kecocokan yang ditemui di awal. Dan LOYALITAS berarti terus memelihara kecocokan tersebut. Nah, inilah kaitannya dengan masa bakti. Bisakah seseorang menyempurnakan cintanya hingga saat-saat terakhir. Dan masa sepanjang itu, dan rintangan yang hadir sepanjang perjalanan itu, ujian kesusahan dan kesenangan, itulah ujian pengorbanannya. Dan itulah parameter cinta. Betul?[]

Categories: psiko
  1. Maret 19, 2009 pukul 2:08 pm | #1

    أستغفر الله، ما شاء الله، سبحان الله :roll:

  2. firda
    Maret 20, 2009 pukul 3:55 am | #2

    sorry kang..
    entah kenapa kok sy jadi ilfiil ya baca tulisan inih… yg berbau2 aliran “ungkapan perasaan” kek nya ga perlu dipublish githu..

    klo maksud tulisan kk mau dikritisi dari segi psikology antara hubungan personal ikhwan ma akhwat.. khan cukup dilihat secara globalnya ajah..

    lbh bagusnya bahas “nidzam ijtima’i antara ikhwan ma akhwat tu kek gimana..

    next, sy kurang setuju kata2 seperti ini—> Tapi kalau sudah khitbah (lamar) mungkin boleh bilang ‘I potentially love you, believe me!!…
    naluri sii naluri tp akhwat manapun ngedenger nii kalimat… bye.bye.bye.. (apalagi masih dlm perkara pasca khitbah blm sah)..

    sorry boz..

    rausyanfikr?? maybe..

    bener sekali tingkah laku itu tergantung ma pemahaman

    nuhun

  3. rezaageung
    Maret 21, 2009 pukul 5:47 am | #3

    to firda:
    ampun kakak, maafkan saya..

    tapi memang begitulah gaya tulisan saya. Ini bukan ungkapan perasaan, ini cuma teori. Cuma gagasan. Silakan kritisi gagasannya jika ada yg kurang sreg.

    mungkin memang salah saya juga seringkali lupa mengkategori sebuah tulisan apakah termasuk tulisan kajian yg serius atau esay yg ditaburi bumbu2 lelucon. Mungkin kebawa gaya bicara saya, yg suka tiba2 ngebanyol walau sedang bicara serius.

    tapi sungguh, ini cuma celetukan teori, dan tidak pernah menjadi fatwa.

    nuhun koreksinya, jazakillah khoir…

  4. rezaageung
    Maret 21, 2009 pukul 5:51 am | #4

    mengenai kalimat ‘i potentially love you’,,percayalah, ini cuma lelucon (so pliz jgn ditafsirkan secara literal..)

    beside, i never say it to anyone, suer…

    beginilah kalo sok jadi psikolog, hehehe….

  5. firda
    Maret 21, 2009 pukul 7:54 am | #5

    ngebanyol teuh apa sii?? bhs planet dr mana??

    is okay boy..

    ginih kang..
    pertama, this is just theory?? yg dimana teori ithu menggambarkan pemikiran dan perasaan sang penulis.. dan kk lebh condong yg kedua.. sehingga ketika akan membaca tulisan kk(tergantung type karakter personal jg sii, tp klo sy liat khan nii blog yg banyak baca ithu para aktipis githu.. yg dimana rata2 pemikir kritis semuanya.. eh.. maybe)

    kritisi gagasan yah?? entah kenapa jg sy ga liat ini tulisan sebagai sebuah gagasan ^^?? dari sisi mananyaaa githu, sorry boz..

    wahid, jk kk ingin membahas hubungan personal ikhwan ma akhwat dlm konteks non talabul ‘ilmi ato lbh tepatnya membngun hubungan pra nikah.. kk minim pemikiran, selain minim referensi juga.. dan keknya tulisan ini ngga ngarah kesana dech.. tp lebih kepada luapan emosi sebagai seorang ikhwan.. dan cenderung melihat secara subjektif.. seharusnya kategoinya ganti jd personal..

    sorry ya sotoy..

    tulisan itu bisa menggambarkan macam2, ya pemikiran, ya perasaannya jg, ya tingkat emosional kepribadian, ya karakter, ya prinsip jg.. ya kebiasaannya, ya anything.. bahasa verbal lbh “mati” dibandingkan bhs non verbal.. kata orang sosialis “kata2 adalah senjata”.. that’s right..

    tulisan jg bermanfaat untuk meminimalisasi miss comucation dlm hubungan interpersonal.. tp untuk membangun sebuah komunikasi yg efektif enaknya face to face.. (knp jd ngebahs komunikasi nya)

    dlm islam(kek nya kk lbh tahu).. ada rambu2 yg hrs di perhatikan.. ada hayatul ‘amm ma hayatul khas.. batasannya tipis banget.. (klo di bukunya embah taqy “nidzam ijtima’i” mah githu..

    isnain, ttg paragaf ke-4.. klo orang feminis baca nii tulisan, keknya mereka akan membentuk sebuah barisan untuk aksi protes ke kk.. canda boy.. kk teuh kanapa..

    siapa orang pertama yg membantu&mendukung da’wah rasulullah saw?? siapa orang yg pertama memberikan spirit ke beliau, sehingga beliau bisa ttp teguh&percaya diri untk ttp da’wah??siapa “mahkluq” yg menjadi kelemahan sekaligus kebangkitan kaum adam??

    napoleon bisa berjaya pas kepemimpinannya karena ada josephine.. dan mulai tumbang pas josephine diganti ma maria antonite..

    ada pepatah, dibalik kehebatannya seorang laki2 ada seorang perempuan..

    perempuan adalah tiang negara..

    klo pun catatan sejarah ttg “perempuan2 hebat pd masa keemasan islam” ithu minim.. mungkin lbh karena perempuan ithu “tersembunyikan ato disembunyikan ya” entahlah tp bkn berarti nothing..

    sorry mister, sy melihat paragaf ke-4 ada indikasi ketidak seimbangan antara dua mahluq..

    nuhun balik…
    damai boz..

  6. firda
    Maret 21, 2009 pukul 8:19 am | #6

    mengenai gaya bahasa, ya ithu mah semua orang jg beda2.. tp mungkin kedepannya perhatiin content tulisan ma judul..

    nuhun lagi..
    frieden mister..

  7. rezaageung
    Maret 23, 2009 pukul 6:48 am | #7

    baiklah…

    sudah saya duga kalau tulisan ini dibaca perempuan pasti ada yg protes, hehe…becanda ketang..

    wah hebat ya teteh bisa membaca ‘luapan emosional’ dari tulisan.Yup saya akui kalau setiap menulis pastinya saya melibatkan perasaan disamping pemikiran. Tapi ada tulisan yang memang menunjukkan pemikiran dan ada tulisan yang menunjukkan perasaan, dilihat dari kalimat dan pilihan diksi. Dan menurut teteh tulisan saya itu menunjukkan perasaan, begitu kan?

    Kalau begitu saya minta tolong kalimat dan paragraf mana yang menunjukkan hal tsb? mana saja yg menyimpang dari Nizham Ijtima’i? Ada yg belum saya jelaskan bukan berarti menyimpang kan?

    Terus terang saja (jadi bongkar resep ni..), paragraf 1,2,3 adalah penangkapan saya dari ceramah seorang ustadz ttg munakahat. Paragraf 4 adalah simpulan saya ttg itu. Paragraf 5, ttg pengorbanan, adalah simpulan dari berbagai bacaan dan pengamatan. Paragraf 6, tentang ‘I potentiall love..’ murni bumbu banyolan. Paragraf terakhir, itulah teori saya, yg bisa benar bisa juga salah.

    Nah, mengenai posisi perempuan yg seolah marginal dalam tulisan saya, tunggu dulu mbak…Ini saya niatkan bukan tulisan terakhir. Saya masih puna pemikiran ttg sosok perempuan agung, yg berada di balik setiap pahlawan. Someday i will write about it.

    Jadi, tenang….insya Allah tidak akan ada tendensi jender dalam tulisan saya, hohoho……

    By the way anyway busway, nuhun banget koreksinya, setidaknya saya jadi merenung…(n sdikit ksepet, hihi..)

  8. rezaageung
    Maret 23, 2009 pukul 6:52 am | #8

    btw, aku pengen nantang nih : sepertina teteh lebih paham ttg ini. Buatlah tulisan semisal. Biasanya aku akan mengoreksi pemikiranku setelah membaca tulisan jadi.

    btw lagi, gini2 juga di FB artikel ini banyak yg suka lho, teh! Heu”

  9. firda
    Maret 24, 2009 pukul 12:08 pm | #9

    Mbak?? Sayang sekali sy bukan orang jawa..

    Keknya yg nnt bakal protes ga akan sy doank dech.. soalnya nii tulisan berbau “romantisme pisan” jd keknya yg antiromantisme bakal protes jg… hahahaha.. canda…

    Next:
    Merasa kesepet?? ‘afwan dgn rendah hati sy ga b’maksud seperti ithu kok apalg sengaja nyepet.. ya, mungkn krn sy akhwat “scra psikologis mudah terpancing” untk mengoreksi hal2 yg bersifat tdk sesuai dgn pemikirannya.. tentu kembali lg ke hukum syara’.. palagi masalah nii sensi githu

    Kang, sy ga bilang tulisan kk menyimpang dr nidzam ijtima’I.. hanya saja tulisan kk kurang jelas dan detail..

    And ttg kalimat yg menunjukan perasaan yach.. weisss… jgn terlallu diambil hati yach(biasanya org yg suka b’canda marahnya lebih serem dibandingkan org yg serius… aha)… sy meliatnya paragaf 5 ma 6 (knp sy blng luapan emosi, krn sy ga liat tujuan nii artikel membahs hubungan interpersonal ikh-akh secara global/objektif.. tp lbh mengedepankan pandangan subjektif yg dilandasi dr perasaan/emosi) klo kategorinya personal sii.. bisa dimengerti..

    klo paragaf 1,2,3 ithu resume dr seorang ustadz ttg munakahat… hhmmm, mungkn pembahasannya kearah kondisi (cewe ma cowo).. lbh tepatnya mungkin ustadz td ingin memberikan “pandangan” baru ato dekontruksi pemikiran ttg memilih pasangan ato ngertiin k diri sendiri ya, yg dimn rata2 dari kita(kita??) ya sipapun lah, ingin sosok yg idealis, prefeksionis or… hhmmm

    parameter idealis teuh apa?? Apa pulak parameter kecocokan?? All people have different think about this.. ga bs dipaksa hrs idem..

    sy ga bisa generalisasi soalnya nii sebagai sebuah “pandangan” yg sah2 ajah orang punya pemikiran/teori… malas ah nerusinnya… ya sok ajalah da ithu mah terkait jg ma prinsip setiap individu…

    cuman klo sy blh nambahin dikit ajah… dlm hubungan interpersonal ikh-akh ada hal2 yg hrs diperhatikan -> perbedaan persepsi/pandangan seringkali terjd clash(kembali ke hukum syara’), sikap/sifat yg berbenturan, 2 manusia ithu tdk mungkin akan cocok/sama dan memang seumur hdp tdk akan pernah cocok/sama.. tp ada celah yaitu openmind, ada sikap “saling(menerima,understanding, menghargai,dll)” di ke2 belah pihak, dan kotmitmen yg serius sampai ending hidup.. dan jgn terlalu berharap/memiliki keinginan banyak thdp lawan[lawan??.. yach ngertilah].. klo kek ginih nantinya akan timbul perasaan kecewa, merasa tdk dihargai, pesimis dll[nu negative semua].. manusia wajar pisan.. tp ga wajar jk menghasilkan sikap judge yg lahir dr asumsi jauh dr fakta sebenarnya… inii konteksnya umum yah, mau itu di lmbaga da’wah kek, ato hubungan nu rada sensi…

    btw, tambahan dr sy ithu berdasarkan pengamatan dan penelitian.. mengamati kehidupan manusia ithu unik..

    tp sy rada ga percaya jg nii(aneh melihat)…. Di blog ikhwan da tulisan kek ginih…. Biasanya…

  10. firda
    Maret 24, 2009 pukul 12:10 pm | #10

    oia, kk nantangin sayah??, ga salah?? Yakin?? heu.heu. canda

    Sayang sekali pisan, sy rada males euy bikin tulisan kek gini di waktu2 sekarang…

    sy lebih seneng bikin tulisan/diskusi yg membangn pemikiran/pemahaman objektif perkara apapun ithu…

    jd sebenrnya ga masalah kita mo bahas masalah apapun ithu, asalkan perhatiin ajah metodologi penelaahannya pas ngebahas perkara tersebut…

    karena tulisan kek diatas mau tdk mau pasti lebih melibatkan perasaan dan memancing gharizah yg membacanya(tergantung jg sii, klo sy mah biasa ajah..).. ibaratkan makanan.. tulisan di atas cocok untuk dimakan ma yg namanya “perasaan” dan “akal” sedikit termaginalkan.. artinya perasaan terlebih dahulu yg dipahami dibandingkan akal.. karena sy liat tujuan di awal.. aduh sorry boz, sy mah rada sotoylah…

    btw lagi, tulisan ini banyak disuka di FB yach?? Hah?? Kok bisa ya?? Heu..heu.. I can’t imagine.. canda.. (sy ga th soalnya, ga ikut2tan bikin FB, dan ga da niat untk ikut.. nambahin kerjaan ajah soalnya) yah.. semoga ga keluar dr batas hukum syara’.. maksudnya pas diskusi githu… semoga tdk terpancing perasaan sehingga sedikit menyampingkan peran akal.. biasanya suka keblablasan pas diskusi.. cukuplah menceritakan di jama’ah masing2…

    wallahu’alam
    damai mister

  11. rezaageung
    Maret 25, 2009 pukul 7:10 am | #11

    wah, terima kasih guru, nasehatmu sangat berguna…”_”

  12. Maret 26, 2009 pukul 1:25 am | #12

    أستغفر الله، أستغفر الله…

  13. azfa
    Maret 26, 2009 pukul 12:53 pm | #13

    he.. tulisannya ‘nakal’ juga. hm,, anak nakal harus di… (nasihatin).

    btw, nampaknya anda harus segera mencari pasangan. he.. no offense kk. peace ah..

  14. rezaageung
    Maret 28, 2009 pukul 3:38 am | #14

    hmm…ni posting paling kontroversial sejauh ini…

  15. firda
    Maret 28, 2009 pukul 7:12 am | #15

    guru??

    sy inih masih merangkak ke sanah sinih…

    hoffentlich hilfreich.. Sie können sich besser..

  16. April 8, 2009 pukul 2:11 pm | #16

    oh gitu yah ^-^, si kaka ini berpropesi sebagai dokter cintrong juga yah.

    masa sih yang cocok itu kalo pedang dengan sarung.kalo yang satu hebat yang satu “tidak” hebat?? ..Apakah survey di lapangan nya udah dilakukan dengan data-data yang valid?

    bisa aja kan pedang denga pedang bersatu jadi super pedang. Orang hebar berpasangan dengan orang hebat..

    Kalo pasangan ini pintar memanage bahtera rumah tangganya, maka pasangan pedang-pedang ini akan jauh lebih hebat daripada pasangan pedang-sarung pedang..

    wallahualam

  17. rezaageung
    April 18, 2009 pukul 4:32 am | #17

    tapi yg begitu tu jarang banget, mbak riri,,

  18. duhan
    April 20, 2009 pukul 9:08 am | #18

    hahahahaha… si kang ageung…

    set dah tulisan kek ginih.. dikau sengaja yah.. biar ada simpati githu??

    heureuy kang..

    gua mO nanya ajah lah…

    yg jarang banget ithu kek gimana?? berarti maksud mu teuh “dikau hebat” and calon pasanganmu teuh “biasa wae”…. kitu lain??

  19. firda
    April 20, 2009 pukul 10:26 am | #19

    sudh lama tdk berkunjung… asa ada yg beda

    @ foR mister riri and authOr

    yg namanya rumah tangga sukses ga bisa diliat dr data2 yg valid atuh kang.. ato survey di lapangan gituh

    masalah pasangan dengan pasangan yg hebat ketemu ma yg hebat.. siapa yg bisa jamin RT akan hebat juga?? keharmonisan RT akan terjalin bukn karena banyaknya persamaan..

    sy mah suka ga suka klo masalah kek ginih di analogikan.. kek teorinya kang ageung… pedang ma sarung.. apakah ithu maksudnya yg biasa ajah ama yg hebat??

    apa standaR yg biasa sj?? apa pula standar yg hebat?? semua orang punya kelebihan dan kekurannya masing2..

    dan sekali lg, banyaknya persamaan tdk menjamin keharmonisan dlm RT.. ada yg lain.. apa ithu?? ya silahkan telaah sendiri..

    tergantung orangnya jg sii, liat sajah ummu sulaim r.a. menerima pinangan yg menurut kita biasa sj kek thalhah tp kemudian kelak thalhah menjadi orang yg hebat….

    berarti di sinih ada “something” khan….

    sy suka mikir, misal melihat sosok psangan2 yg pintar.. pastinya ketika mereka sudah berpasangan lewat ikatan ga sepintar pd saat sy melihatnya sekarang… dulu bisa jd masih biasa ajah.. sekarang mereka jadi hebat…. nah jd disinih ada something klo sy liat… proses perjalan ithu lah yg membuat mereka menjadi hebat yg asalnya biasa ajah klo menurut kita… padalah hanya allaah yg taU..

    kita bisa menilai dia “hebat”… wallaahu’alam
    kita bs melihat dia biasa ajah padahal… yah wallaahu’alam lg..

    nothing prefect in the world!

    sy suka geli jk ada statement kek ginih,, “sy mah pingin yg ideal.. agr bisa jd pasangan yg ideal” tp secR pribdinya dia tdk men-idealkan diri..

    ato,, ” sy pingin seseorang yg bisa menerima apa adanya, tp dia buat daftar panjang semacam kriteria…”

    asa ribet..

    klo liat para sahabat… mereka biasa ajah…

    khalifah al makmun rah, al mu’tasim rah… dilahirkan dan dibina dR seorang mantan budak!

    lantas sy tdk mungkin bilang budak ithu identik dengan “terbelakang”

    dr seorang mantan budak bisa melahirkan dan membina seseorang yg kelak akan menjadi pemimpin umat islam…

    tp yg namanya prinsip ithu pasti.. bukan untuk mensyaratkan tp mengajak bersama…

    entah kenpa sy kok jd nulis kek ginih… ini hanya selingan…

  20. Mei 8, 2009 pukul 7:20 am | #20

    wa baru datang kk firda.. -_-

    tulisan seperti ini sih emang romantis banget.. memang terdapat teori dasar yang ingin diungkapkan.. namun dari gaya pengungkapannya, dan pengembangan pemikirannya yang terlalu sederhana, wa pikir seperti yang kk firda lakukan.. ide2 pada tulisan ini lebih berkembang karena romantisme dibanding penelaahan teori2..

    yaah, tapi kalo idenya digali lebih jauh, wa juga bukan berarti tidak tertarik..

    mengenai Ide bahwa kecocokan khususnya pada konteks cintrong, itu dikarenakan kekontrasan pada sifat2 tertentu yang relatif.. secara empiris memang banyak buktinya sih.. orang tua wa misalnya.. -_-

    keduanya berbeda, tapi harmonis kok.. kalo contoh yang lain misalnya antara Albert Einstein dengan Istrinya.. mereka berdua sama2 fisikawan.. mereka awalnya tertarik karena bidang mereka.. tapi pada akhirnya bercerai.. rumah tangganya sering ribut..

    nah premis2 yang mengumpulkan bukti2 empiris ini sebenernya hanya menunjukkan bahwa pada keluarga yang memiliki kesamaan terjadi ketidakcocokan.. sedangkan pada keluarga yang memiliki kekontrasan, terjadi ketidakcocokan..

    namun, premis2 mengenai bukti empiris ini tidak memuat pemikiran, sebab dari keharmonisan dan ketidak harmonisan..

    nah mengenai hal ini kk firda mengemukakan teori yang lain.. yaitu adanya penerimaan, understanding dan sebagainya, yang menyebabkan terjadinya keharmonisan..

    nah karena premis kang ageung ama kk firda kontraposisi, maka kita bisa saja meneliti kemungkinan sintesis dari premisnya kang ageung dan premisnya kk firda..

    apakah ada hubungan antara kekontrasan dengan terjadinya penerimaan??

    yah seperti itu kalo ide2 tulisan ini mau dikembangin.. sudah ga romantis lagi khan?? hehe..

    btw.. kalo mengenai masalah ini(hub ikh-akh), wa sih sampai sekarang masih memahami, bahwa yang paling penting dari keluarga adalah faith.. oleh karena itu selama suami atau istri menjalankan kewajiban2nya sebagaimana fiqh munakahat.. selama itu bakal beres.. -_-

    wa belum menempatkan perkara kecocokan dalam maslah hub ikh-akh.. yah bukan berarti tidak ada.. dalam fiqh2 tentang khitbah, banyak yang mengisyaratkan mengenai kecocokan.. tapi belum jelas maksudnya.. ada yang fiqh2 tersebut dijalankan untuk mencari tahu kecocokan, tapi ada juga yang sepertinya justru untuk menumbuhkan kecocokan..

    yah kalo masalah substansi syara’ sih wallahu’alam..

  21. rezaageung
    Mei 25, 2009 pukul 9:46 am | #21

    premis..,,antitesis…wuaks lieuur….!#$

  22. Est
    Agustus 4, 2009 pukul 10:59 am | #22

    Kembalikan semuanya pada Quran dan Sunnah, insya Allah, selama suami dan isteri adalah hamba2Nya yang shalih dan shalihah-terlepas sekontras atau sesama apapun latar belakang keduanya-rumah tangga akan sakinah mawaddah wa rahmah. “Allahummasrif anna adzaaba jahannama inna adzaabaha kana gharaamaa, innaha saa’at mustaqarra wa muqaamaa… Allahumma rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa min dzuriyyarinaa quurrata a’yuunin waj’alna lil muttaqiina imaamaa. Aamiin”

    Allahumma ashlih anfuusanaa li taqwa ilayka.. Aamiin..

  1. Belum ada trackback.