Beranda > islam > Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang

(Refleksi 85 Tahun Runtuhnya Khilafah)

Oleh : Reza Ageung

sunrise

Kalau sekali waktu kita berada di padang pasir yang tandus dan selama sepekan tidak menemukan air, maka kehadiran satu tetes saja menjadi anugerah yang dipuja tiada henti. Padahal biasanya kita mengutuk hujan deras yang turun di waktu seharusnya kita keluar rumah.

Kekeringan dan lantas kehausan, fenomena lumrah. Ketika tidak ada seorang pemimpin pun yang berani mengambil tindakan nyata terhadap Israel, seorang Perdana Menteri yang mengutuk (sekedar mengutuk) Zionis akan dianggap pahlawan. Padahal bagi tukang ojeg sekalipun sekedar mengutuk bukan pekerjaan sulit. Dunia Islam haus akan pemimpin yang tegas, namun singa-singa punah, diganti dengan ayam-ayam yang sekalinya berkokok nyaring ditaburi applause.


Penakut dan pengecut, ayam-ayam itu. Dan seorang ibu di Gaza yang kehilangan bocah-bocahnya akan mengeluarkan kata yang lebih pedas lagi bagi semua penguasa muslim yang menahan tentaranya di barak-barak mereka ketika yahudi-yahudi itu memangsa anak-anaknya.

Namun betul, penguasa adalah cerminan rakyatnya. Lantas apakah umat yang hanya bisa mengutuk ini menjadi umat yang penakut dan pengecut? Dalam buku “Limadza ta’akhara ‘lmuslimun wa limadza taqaddama ghairuhum?”, Al Amier Syakib Arsalan menuturkan,

Ketakutan dan kekecutan umat Islam yang seperti itu tidaklah ada putusnya, bahkan makin hari makin bertambah, dan menyelubungi dada umat Islam di muka bangsa Eropa, sehingga dari sebab itu mereka dapat mengalahkan umat Islam, lantaran dari sikap kekecutan dan ketakutan mereka sendiri.

Ya, dalam hadist tentang wahn pun, sebelum Rasul saw menyebutkan adanya penyakit hubbuddunya (cinta dunia) pada umat Islam, beliau saw menuturkan bahwa Allah swt mencabut rasa takut dari dada kaum kuffar. Dan ya, takut itu beralih ke kaum muslimin. Jadi, antara hubbuddunya dan takut (berkorban, berjuang dan mati) adalah sebuah sebab dan akibat.

Padahal, seperti kata Ibnu Qayyim, ‘dunia adalah bangkai dan singa tidak mau menerkam bangkai’. Hubbuddunya dengan demikian adalah kecenderungan yang hina, katalis yang menjadikan seorang singa menjadi hewan kecil pemangsa bangkai tak berdaya, penyebab degradasi umat Islam menuju titik nadirnya.

Oleh karenanya semenjak 3 Maret 1924 saat keruntuhan Khilafah Islamiyah hingga hari ini tepat 85 tahun kemudian, bahasa yang lekat dengan umat ini masih ‘kebodohan’, ‘keterpurukan’, ‘kemiskinan’, ‘keterpecahan’, ‘keterjajahan’ dan semua kata yang menjadi simbol dari energi dan emosi negatif lainnya.

Namun, ada sisi positif dari status ‘titik nadir’ itu yang bisa kita syukuri. Pada grafik sinus, jika sebuah kurva telah melewati titik minimum, maka ia akan bergerak naik. Jika kita sudah turun ke lembah, maka bersiaplah untuk kembali menaiki bukit selanjutnya. Jalannya akan menanjak, menuju puncak kejayaan yang oleh Allah swt dipergilirkan di antara umat manusia. Inilah berita gembiranya.

Namun, pendakian tersebut merupakan sebuah proses yang bersyarat. Harus disadari di awal bahwa syarat itu telah ditetapkan oleh Allah swt, yaitu beriman dan beramal saleh,

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. (QS an-Nuur : 55)

Jadi, syarat pertama berkuasa adalah iman, ini sekaligus berarti bahwa perjuangan menuju kejayaan adalah perjuangan aqidah (keyakinan/keimanan). Iman dijadikan ideologi kebangkitan, dan ia harus melembaga dalam alat perjuangan, yakni jama’ah / hizb. Lantas jama’ah ini menjadikan iman sebagai penuntun umat, sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir), menuju jalan setapak pendakian itu.

Selanjutnya adalah amal sholeh : ideologisasi Islam dilanjutkan dengan implementasi pada tataran amal, hingga aqidah tadi menjadi mabda’(ideologi) bagi gerakan (harakah). Mabda’ menjadi bahan bakar yang menghasilkan energi pendorong yang tidak pernah habis. Dengan ini dimulailah pendakian di lereng kebangkitan itu.

Namun pendakian itu tidaklah mudah. Sebagaimana hijrah, ia adalah jalan penyucian, penguji manakah kader umat ini yang loyal pada kebenaran, yakni pada Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Jalan pendakian ini menjadi menanjak lagi sulit, sebagaimana yang Allah firmankan,

Maka tidakkah sebaiknya dengan hartanya itu ia menempuh ‘Aqabah, jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang (QS Al-Balad : 11-17)

Ada pengorbanan harta, ada juga kepedulian kepada orang-orang tertindas dalam pendakian itu. Maka, perjuangan aqidah itu menjadi ajang pengorbanan kader-kadernya dalam rangka jual beli harta dan nyawa dengan Allah swt yang akan membelinya dengan surga, dan juga menjadi sosok solusi bagi persoalan masyarakat. Kemiskinan, kebodohan, ketertidasan, keterjajahan, harus menemukan solusinya dalam fikrah gerakan dakwah ini. Ada shira’ul fikr (perang pemikiran), kifah siyasi (perjuangan politik), dan tabbani mashalih ummah (pengadopsian kemaslahatan umat) di sini.

Saling berpesan untuk bersabar dan berkasihsayang adalah wujud tastqif (pembinaan), ukhuwah dan soliditas kader-kader umat. Hingga mereka yang lulus dalam ujian pendakian yang sulit ini, mereka yang tidak gugur karena tergoda lagi oleh hubbuddunya, akan bersama-sama sampai pada puncak kejayaan yang dicita-citakan : tegaknya Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!

Namun, ini bukanlah akhir perjuangan. Memang, jika dianalogikan dengan fungsi f(x) = y, maka tegaknya Khilafah adalah y alias hasil, sedang kondisi di titik nadir tadi adalah x, input, dan perjuangan aqidah dalam pendakian itu adalah f(x), prosesnya. Hanya saja, rupanya y tadi menjadi input untuk fungsi selanjutnya, yakni f(y) = z.

Dengan demikian, Khilafah bukanlah tujuan itu sendiri, ia adalah metode (thariqah) untuk mencapai tujuan yang sebenarnya, z itu, yakni isti’naf al-hayah al-islamiyah (melanjutkan kehidupan Islam).

Maka, di puncak bukit itu, kader-kader umat yang terpilih tadi masih harus melaksanakan tugas baru, yakni misi Khilafah sebagai—mengutip Hasan al-Banna—ustadziyatul ‘alam (guru dunia), mercusuar yang menerangi umat manusia, rahmatan lil ‘alamin. Metodenya, f(y)nya, bidda’wah waljihaad, dengan dakwah dan jihad! Allahu Akbar!

Dari puncak bukit itu, Khilafah akan menebar cahayanya ke semua pintu rumah yang dihuni manusia, hingga sesuai dengan kondisi yang digambarkan oleh hadits Rasul saw yang diriwayatkan oleh Tamim ad-Dari r.a,

Sungguh perkara (agama) ini akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana sampainya malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik di tengah penduduk kota, atau di tengah penduduk kampung, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan yang dimuliakan dan kehinaan yang dihinakan. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran. (HR. Ahmad)

Karena itu kini ingin rasanya saya berteriak kepada para ibu di Gaza, “Ummi…kegelapan akan segera usai, dan terang cahaya Khilafah akan segera datang, bergembiralah!”. Kepada para penguasa di negara-negara muslim, “Wahai para thawaghit, malulah kepada umat ini, turunlah sebelum rakyat kalian sendiri yang akan menggusur kalian!”, kepada musuh-musuh Islam, “ya kuffar ya musyrikun, jaisyu Muhammad saufa ya’ud, the army of Mohammad will be back!”

Dan 85 tahun ini akan dibayar dengan kemenangan, ketika—mengutip Kartini—habis gelap terbitlah terang, maka “wa ra’iatannaasa yadkhuluna fii dinillahi afwaja, dan kamu melihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah” (An-Nashr : 2)

Selanjutnya bersiaplah untuk merayakan tegaknya Khilafah dengan tasbih dan istighfar.

Maka bertasbihlah dengan kesucian Rabbmu, dan beristighfarlah kepadaNya, sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat (An-Nashr : 3).[]

3 Maret 2009

Categories: islam
  1. Maret 6, 2009 pukul 10:44 am | #1

    Wajar jika khilafah Islam runtuh karena sesungguhnya kekhilafahan yang pernah ada adalah kekhilafahan semu. Di sana, banyak terjadi intrik-intrik politik yang jahat juga.

    Bagi saya, kekuasaan Islam adalah penguasaan atas diri masing2 setiap muslim; kekuasaan hati yang bisa membuat setiap diri muslim selalu belajar untuk cerdas, bekerja keras untuk kaya, dan berpikir progresif untuk membangun peradaban dunia.

    Salam kenal.

    http://www.kalipaksi.wordpress.com

  2. firda
    Maret 7, 2009 pukul 10:16 am | #2

    tampilan baru ya kk??

    mau nanya, gambaran khilafah kedepan kek gimana?? ya pastinya mah sesuai dengan yg dicontohkan ma Rasul.. ‘ala manhaj nubuwwah

    cuman detailnya, teknisnya itu kek gimana??

    kek saat rasul hijrah dan melakukan stabilisasi internal, sy hanya liat ada dua, faktor ekonomi[persaudaraan kaum anshar ma muhajirin] ma pendidikan[pembangunan mesjid].. trus jg ada piagam madinah.. kalo sy ngeliatnya itu kek taktik rasul buat orang yahudi..

    nnt, pas khilafah tegak, yg mau di stabilisasi apakah berdasarkan prioritas, mana yg harus di stabilisasi terlebih dahulu?? ekonomikah,politik kah,ijtima’inya kah? or

    tp bukannya yg namanya stabilisasi itu menyeluruh?? secara teknisnya kek gimana..
    dari semua sisi..

    biar nnt ketika khilafah tegak, ga bengong.. mungkin buat orang tertentu mah iya, cuman kita sebagai pejuangnnya bener2 kudu tergambar khilafah itu kek gimana..

    jujur, kalo sy mah, rada ngga kebayang khilafah kek gimana… secara teori iyah, tp teknis rada ga kebayang…

    nuhun

  3. pengelolakomaht
    Maret 15, 2009 pukul 6:34 am | #3

    Simak terus update diskusi antara Hizbut Tahrir dan mantan Hizbut Tahrir, tentang Hizbut Tahrir dan da’wah khilafahnya di :

    http://mantanht.wordpress.com

    Semoga menambah wawasan kita bersama.

  4. Maret 17, 2009 pukul 2:37 pm | #4

    naha jadi ngingiluan urang themena uy??

    btw makin kesini romantisme nya semakin akut..

    adakah keinginan yang lain untuk menulis kajian yang serius??

    sepertinya sayang kalo cuman tulisan romantisme uy..

    IMHO kk..

  5. rezaageung
    Maret 19, 2009 pukul 10:22 am | #5

    ow..ada, tentu saja ada niat untuk menulis kajian yg lebih serius. Hanya saja kesibukan yg merangkak naik akhir2 ini membuat saya nggak sempat melakukan riset terhadap tema2 yg menarik minat saya. Jadinya saya hanya menulis hal2 yg ada di pikiran dan hati saya saja.Sekedar curhat, begitu.

    Tapi niatan saya begitu adanya. Tunggu saja tanggal revolusinya! Hidup revolusi ah! I still believe on revolution…

  6. rezaageung
    Maret 19, 2009 pukul 10:36 am | #6

    to pengelolakomaht:
    Ana udah melihat-lihat blog antum. Maaf, ya, bagi ana isu2 yg dibahas di situ ttg HT sangat klise, udah ana baca artikel2 serupa berbelas kali. Dan kesimpulan ana satu : antum nggak bisa menilai suatu gerakan dari kacamata antum doang, begitu juga ana nggak bisa serta merta mengadili gerakan orang lain dari sudut pandang kelompok ana semata.

    Blog antum itu, dan orang-orang yg sehaluan, salut ana, selalu berlandas nushush syar’i. Tapi ada satu kontradiksi berbahaya : kalian selalu bilang ‘jangan hujat pemerintah, kalau ada kesalahan, nasehati secara tidak frontal’. Namun, kalian mencela HT, Ikhwan dan hampir semua gerakan dan ulama haraki secara frontal, menyebutkan nama secara jelas, dan penuh tendensi.

    Padahal jelas, kami mengingatkan penguasa dengan cara yang ma’ruf, tanpa hiperbolik, berhujjah, rasional dan intelek, antum bisa cek semua nasyroh HT. Dan satu hal, kami nggak pernah mencela kalian, apalagi secara frontal seperti yg kalian lakukan terhadap kami. Bahkan jika ada gerakan lain yg kami nilai salah, kami hanya mengajukan hal yang menyimpang dari hukum syara’ tanpa menunjuk hidung yg bersangkutan.

    Mengapa susah untuk mengalihkan moncong senjata kita dari sesama du’at kepada musuh2 islam yg jelas2 berniat menghancurkan Islam???!!!!

  1. Belum ada trackback.