Beranda > politik > Tuhan, Kotak Suara dan Patung Anak Sapi

Tuhan, Kotak Suara dan Patung Anak Sapi

images

Demokrasi, modal, dan kekuasaan, adalah jeratan-jeratan modern yang saling menjalin satu sama lain membelenggu manusia-manusia modern dalam penjajahan gaya baru. Namun, seringkali kita lupa bahwa di samping ketiga hal itu, ada satu lagi perangkat pembelengguan, yakni agama.

Sebuah contoh berpuluh abad silam, panggung kisah Bani Israil diisi oleh aktor-aktor ini : Fir’aun, Qarun, dan Bal’am. Fir’aun adalah penguasa zalim, Qarun adalah penguasa modal, dan siapakah Bal’am? Dialah agamawan (baca : ulama) yang melegitimasi status quo. Ali Syari’ati dalam Agama versus Agama menulis, “Bal’am adalah ulama yang terbesar pada waktu itu. Agama rakyat berpusat di sekitar orang ini, dan karena itulah ia bangkit, dan menentang gerakan (Nabi) Musa.”

Bukan hanya Nabi Musa, Nabi Isa pun mengalami hal yang sama. Masih dalam buku yang sama, Syari’ati menulis tentang orang-orang Parisi yang menentang dakwah Nabi Isa, “Orang-orang Parisi adalah pembela dan penguasa agama pada waktu itu. Mereka bukanlah kaum materialis. Mereka bukan ateis……Orang-orang yang menentang Nabi Isa adalah orang-orang yang beriman,…”

Maka ketika penguasa tidak mampu lagi memaksa rakyatnya untuk patuh lewat kekerasan, dalil agama pun dijadikan senjata. Wajar, ketakutan akan masuk neraka tentu lebih besar dibanding ancaman penjara. Ia membalik keyakinan manusia akan kebenaran menjadi keraguan-raguan dan akhirnya mencampakkan kebenaran itu.

Seperti hari ini. Bahkan ketika negara-negara yang lebih dulu menerapkan demokrasi belum pernah mengancam rakyatnya—yang tidak berpartisipasi dalam pesta demokrasi—dengan neraka, ulama negeri ini justru memfatwakan bahwa golput itu haram. Jadi barangsiapa yang tidak datang ke bilik suara, ia adalah ahli maksiyat seperi peminum khamr.

Malang betul nasib rakyat ini jadinya. Pertama, dikorbankan demi kepentingan kaum pemodal lewat penggadaian aset-aset rakyat. Kedua, jadi komoditi kaum elit lewat kampanye-kampanye yang menebar janji manis.

Ketika kedua hal itu membuat rakyat muak dan tidak lagi percaya dengan sistem dan janji manis, kotak suara menjadi sepi dan golongan putih menjadi pemenang di hampir semua pilkada dan diprediksi akan menjadi pemenang di pemilu mendatang.

Penguasa panik. Bukan! Bukan penguasa sekarang yang sebentar lagi lengser, tapi orang-orang naif yang menjadi penjaga sistem status quo, yang khawatir kalau legitimasi penguasa penjaga sistem dzalim ini menurun gara-gara suara golput. Namun, bahasa kekerasan sudah tidak cocok lagi, maka ketiga, rakyat dipaksa menopang sistem yang mendzalimi mereka ini dengan ditakut-takuti lewat dalil-dalil agama.

Seolah-olah, ketika rakyat sudah malas datang ke bilik suara untuk ikut pemilu yang menghabiskan dana yang lebih besar daripada anggaran untuk mengatasi anak-anak putus sekolah, penguasa ‘memaksa’ Tuhan untuk berpihak pada mereka. Dan karena hanya ulama yang boleh berbicara atas nama Tuhan, maka para ulamalah yang diminta ‘memaksa’ Tuhan agar ‘memaksa’ rakyat datang ke bilik suara.

Maka celakalah! Kalau penguasa dan bahkan Tuhan sudah tidak berpihak pada rakyat, maka rakyat harus meminta tolong pada siapa?! rakyat yang masih jarang datang ke masjid ini, sekarang diwajibkan datang ke TPS! Rakyat yang masih sedikit berinfak ke kotak amal ini—yang itu juga hukumnya sunnah, bukan wajib—sekarang diwajibkan mengisi kotak suara?! Aduhai…! Apakah Tuhan sedang membuat agama baru?

Satu-satunya penjelasan yang menenangkan adalah bahwa bukanlah Tuhan yang sedang membuat agama baru, namun merekalah yang sedang membuat Tuhan baru. Masih di panggung Bani Israil, ada tokoh agama bernama Samiri, yang membuat patung anak sapi dari emas, padahal sebelum Musa pergi, umatnya berjanji untuk tidak menyembah berhala. Dan ketika Musa as kembali,

Mereka berkata, “Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban berat dari perhiasan kaum (Fir’aun) itu, kemudian kami melemparkannya (ke dalam api), dan demikian pula Samiri melemparkannya.” Kemudian (dari lubang api itu) dia (Samiri) mengeluarkan (patung) anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, “Inilah tuhamu dan tuhannya Musa, tetapi ia (Musa) telah lupa.” (QS Thaha : 87 – 88)

Dan Syariati pun menegaskan, “Dia (Samiri) adalah seorang yang percaya pada agama. Dia adalah seorang juru dakwah dan bahkan pemimpin agama.”

Maaf, bukan maksud saya menyamakan MUI dengan Bal’am maupun Samiri. Saya hanya berharap agar jangan sampai fatwa yang satu ini dilanjutkan dengan fatwa-fatwa dzalim lainnya, hingga membuat ‘patung sapi dari emas’ gaya baru. Jangan sampai eksploitasi ulama terhadap rakyat membuat negeri ini menjadi teokrasi abad pertengahan, lalu muncul Marx baru yang berteriak ‘agama adalah candu!’ Naudzubillah.

Maaf, saya hanya ingin berdoa semoga guru-guru kita itu sadar bahwa demokrasi yang lahir dari Revolusi Perancis dan kotak suaranya itu bukan perkara yang penting untuk dibela. Karena dalam bukunya, Hajj : Reflection on It’s Ritual, Ali Syaria’ti, dengan penuh perumpamaan mengatakan,

Revolusi di Perancis mencabut feodalisme. Qarun, si tuan tanah, dihukum rajam di pinggir desa. Dia segera kembali ke kota dan menjadi seorang bankir. Kepala Fir’aun dipancung dengan pisau guillotine revolusi. Dia disingkirkan dari istana Versailles. Tetapi dengan kekayaan Qarun dan ilmu sihi Bal’am, dia menampakkan kepalanya dari kotak suara demokrasi.

Wallahu a’lam. Dengarkanlah aspirasi kaum putih.[]

Categories: politik
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.