Kesadaran dan Kesatuan

Tempo hari saya diminta mengeprint tempelan untuk kotak penghimpunan dana untuk bantuan kemanusiaan untuk bencana Manokwari, Papua. Rupanya, kalau sebelumnya tempelan untuk bantuan ke Palestina sebesar A4, kini untuk Manokwari kertas yang diperlukan cuma seukuran B5. Dan, ternyata, memang kotaknya pun lebih kecil. Kenapa? Seorang teman nyeletuk, “Isu Manokwari benar-benar tenggelam oleh isu Palestina.”
Bagi yang bisa menjelaskan hal ini, mungkin akan berkata : faktor media. Ya, tapi bukan sekedar itu. Setidaknya saya berharap mudah-mudahan bukan sekedar itu, bahwa ini menunjukkan sebuah gejala yang kian menjadi tren : isu keumatan mengalahkan isu nasional. Dan itu berarti, mudah-mudahan juga, kesadaran keumatan, atau keislaman, pada diri umat Islam mulai menggeliat menunjukkan ubun-ubunnya.
Ya, media tidak begitu saja iseng berniat menjadikan isu Palestina menjadi pengisi halaman pertama hingga saat ini. Bagaimanapun, walaupun benar bahwa media selalu punya motif, namun perannya sebagai cermin pemikiran umum masyarakat tidak bisa dibantah. Begitu tragedi serangan Israel itu terjadi, aksi protes merebak di mana-mana hampir setiap hari. Ya, setiap hari. Aksi demo oleh ormas ini, ormas itu, partai ini, partai itu, dsb.
Bahkan, protes ini menjadi bukan hanya lintas geografis, namun juga lintas agama. Kita menyaksikan di teve, bukan hanya umat Islam, orang-orang di Yunani, Spanyol, bahkan Amerika Latin turun ke jalan. Tapi bukan itu perhatian saya, melainkan ketakjuban saya pada respon umat Islam dunia yang sedemikian cepat dan menjalar. Seperti diorganisir, padahal tidak.
Kaum muslimin turun ke jalan, dari yang bergaya : massa tumpah ruah dengan seperangkat atribut, bendera, loudspekaer, poster, spanduk, sampai yang sekedar berkumpul si lapangan lalu berteriak-teriak mengecam israel.Besoknya ada aksi seruan memboikot produk Yahudi.
Di balik kesedihan bahwa hanya sebatas itulah yang bisa dilakukan oleh umat Islam, kebersyukuran harus ada. Bayangkan saja, isu palestina menyedot perhatian bangsa-bangsa yang persoalan-persoalan di negrinya masing-masing belum juga selesai. Hai bangsa Indonesia, lupakan kalian bahwa harga-harga sembako masih tinggi? bahwa tahun ini ribuan pekerja akan diPHK? Bahwa kalian terancam disintegrasi? Dan kalian mengerahkan rangkaian aksi untuk membela sebuah bangsa yang jauh yang tidak serumpun sama sekali dengan kalian? Namun kita mendapat jawaban : terbunuhnya seorang bocah palestina lebih menyayat hati dibandingkan ancaman PHK. Hancurnya masjid oleh rudal Israel lebih membuat marah dibandingkan gempa 7,6 skala Richter di Manokwari!
Dan cerita pun berlanjut. Umat Islam terpanggil untuk berkorban sekecil apapun. Sebagian ormas membuka posko rekrutmen pasukan jihad. Sebagian lembaga lainnya mengadakan penghimpunan dana. Jangan dulu bicara tentang penghimpunan di masjid besar yang bisa mencapai di atas 10 juta rupiah setiap harinya, aksi pengumpulan di jalanan pun cukup bisa diandalkan. Teman-teman saya dari BEM sebuah PT berhasil meraup sekitar sejuta rupiah dari hasil ‘ngencleng’ di perempatan jalan selama dua jam. Ya, dua jam saja! Para pengendara merelakan seribu demi seribu, lima ribu demi lima ribu setelah mereka berorasi tentang Palestina di lampu merah. Bisa dibayangkan apa yang ada di pikiran mereka ketika memutuskan untuk menolong bangsa lain yang berbeda ras dan geografi?
Dan jangan sekali-kali menuduh aksi demo hanya sekedar ‘omong doang’. Ia adalah senjata ampuh sebagai pressure untuk penguasa. Jika tidak, maka SBY tidak akan memerintahkan pasukan Garuda untuk turun tangan sebagai peace keeper forces. Dan para kepala negara Arab akhirnya, walaupun dengan malas, saling mengontak satu sama lain, mencoba membicarakan masalah ini. Sebuah perundingan akan segera diadakan. Kita berharap kartu domino pun pada gilirannya akan jatuh ke Liga Arab dan OKI untuk–sekali ini saja–bertindak serius dan menampilkan bergaining position di hadapan Amerika dan Israel.
Tidak bisa ditolak, sebuah kesadaran baru sedang mencari kakinya. Kalau seabad lalu para intelektual negeri ini bilang : sedang tumbuh kesadaran kebangsaan, maka hari ini kita katakan : telah lahir kesadaran keIslaman. Dan kesadaran semacam ini mestilah lintas bangsa. Perasaan senasib dengan bangsa Palestina tidak mungkin ada tanpa adanya ikatan iman yang menjadi alasan. Dan inilah yang tidak dipahami orang-orang yang masih memuja nasionalitas (kalau bukan nasionalisme). Misalnya, sebuah partai Islam di Tanah Air yang gigih membela Palestina dengan serangkaian aksi lantas dituduh sebagai ‘Partai Islam Timur Tengah’, atau “kepanjangan tangan Ikhwanul Muslimin’, atau ‘menunggangi isu PAlestina untuk berkampanye’. Padahal yang menuduh adalah sesama partai ISlam, dan parahnya belum melakukan apa pun untuk Palestina. Dari mana muncul istilah ‘Islam Timur Tengah’ kalau tidak ingin memaksa orang memilih : membela bangsa kita atau bangsa Arab?
Alhasil, abad baru kesadaran baru. Pada 1900-an, kebangkitan Jepang menginspirasi kebangkitan kebangsaan di Asia. Dan Perang Dunia menuntaskan perubahan dengan mencipta tatanan baru yang pelaku-pelakunya adalah nation state. Kini, serangkaian peristiwa belakangan, ditunjang oleh media massa dan pendidikan politik, akan membentuk kesadaran baru, yakni kesadaran keIslaman. Kalau sudah begitu, bisa saja, jika dianalogikan dengan seabad yang lalu, perubahan tatanan tinggal menunggu waktu.
Namun baiklah, itu kan hanya ‘bisa jadi’, yang penting kini, upaya untuk memperoleh kesatuan ideologis antar bangsa-bangsa muslim sudah mulai menampakkan hasilnya. Dan bukankah kesatuan ideologis adalah awal dari kesatuan politik? Bisa jadi, Israel hanyalah ‘alat sejarah’ yang dicipta Allah untuk menghentak kealpaan umat Islam akan kesatuannya sebagai umat lintas bangsa. Walaupun memang, kita tidak boleh lantas terlupa untuk memperhatikan masalah-masalah domestik bangsa ini yang memerlukan penyelesaian segera. []
di ending tulisan… statetment -> kesatuan ideologis adalah awal dr kesatuan politik..??
punten, maksudnya??
bukannya, suatu ideologi tidak akan ada ‘n di terapkan tanpa ada power of politic??
begitukah??
hmm…aku rasa berbeda halnya antara ‘kesatuan ideologi’ dengan ‘diterapkannya suatu ideologi’. Yang terakhir ini, memang betul, harus ada power of politic. Maksudnya, untuk menerapkan sistem yg lahir dari sebuah ideologi, perlu ada lembaga g berwenang, dan ia dinamakan negara. Karenanya, lebih tepat untuk mengatakan ‘diterapkannya suatu sistem’ dibandingkan ‘diterapkannya suatu ideologi’.
Adapun kesatuan ideologi, ia tidak memerlukan kekuatan politik untuk terbentuknya. Bahkan justru adanya kesatuan ideologi adalah awal dari adanya kekkuatan politik. Sebuah partai politik, misalnya, mestilah didirikan oleh orang-orang yg memiliki kesatuan ideologi. Dan parpol ini akan berhasil mendirikan negara sesuai dengan ideologi yg ia imani apabila berhasil menginternalisasi ideologinya pada masyarakat alias membentuk kesatuan ideologi di tengah2 masyarakat.
salah satu penyakit besar yg melanda ummat islam adalah ‘amnesia’…
jk ditempa masalah… pasti masalah yg sebelumnya terlupakan..
indonesia sebagai bangsa yg terombang-ambing di tengah badai keterpurukan, yahh begitu jg negri2 kaum muslimin lainnya…
sebuah mosaik multikulture yg terpuruk dlm kebangkrutan ekonomi, politik, dan sejarah…. ‘amnesia’ ma sejarah nenek moyangnya baheula…
___________________________________
kasus palestina dunia sudah mulai melirik …. siapa ‘pahlawan’ mereka sebenarnya…
siapa yg benar-benar… pedui akan nasib miliyaran umat manusia…
siapa sebenarnya musuh mereka…
wallahu’alam
Yap.
Kesadaran akan kesatuan dunia Islam tak lantas
membuat kita lupa dengan tetangga kita di
Indonesia.