Fithrah

Aku akan bercerita kepadamu sebuah pengalaman. Aku mengikuti sebuah diklat jurnalistik di Pusdai Bandung beberapa waktu yang lalu. Ketika zuhur tiba, masuklah aku ke dalam masjid. Sebelum memimpin salat, sang imam mesjid mengimbau jamaah agar tidak langsung bubar selepas salam nanti, karena akan ada yang menyatakan diri masuk Islam.
Aku tertarik untuk menyaksikan. Maka selepas salat rawatib aku duduk menunggu bersama jamaah yang lain. Terlihat beberapa pegawai masjid hilir mudik mempersiapkan segalanya : meja, sertifikat keislaman. Tak lama kemudian masuklah seorang wanita muda berkerudung ala kadarnya. Ia diikuti oleh beberapa orang lainnya yang aku duga keluarganya, atau mungkin teman-temannya—karena mereka terlihat sebaya.
Sang wanita muda lantas duduk di hadapan meja. Imam mesjid masih menuntaskan rawatibnya lalu duduk juga di hadapan meja, berhadapan dengan wanita tersebut. Ia membuka forum lalu menceritakan perihal acara ini. Dari curriculum vitae yang dibacakan, tahulah aku bahwa mahasiswi UNPAD ini beragama Katolik sejak kecil. Yang menarik, sang imam mesjid menjelaskan tentang maksud wanita ini dengan berkata kurang lebih seperti ini di hadapan jamaah, “hari ini ada saudara kita yang akan kembali kepada Islam.”
Aku tercenung, mengapa ia memilih frasa ‘kembali kepada Islam’ dan bukannya ‘masuk Islam’, seolah-olah si calon mualaf itu pernah beragama Islam sebelumnya?
Pria berjanggut lebat itu meneruskan ceramahnya, dan sampailah ia pada bagian yang mengingatkanku tentang pertemuan antara Allah dengan para ruh di alam ruh dulu, sebelum manusia dilahirkan, bahkan sebelum diciptakannya janin masing-masing. Dengan mengutip ayat dalam al-Qur’an, ia menceritakan dialog itu ketika Allah swt bertanya kepada para ruh,
Bukankah Aku ini Rabbmu?
Maka ruh-ruh itu serentak menjawab,
Betul. Kami bersaksi!
Aduhai! Indah nian dialog itu. Para ruh bersaksi dan mengakui bahwa Allahlah sang Tuhan, mereka bersyahadat di hadapan Allah swt bahkan sebelum mereka ditiupkan ke dalam jasad. Menjadi muslim, ternyata, menjadi pilihan setiap insan sebelum memilih yang lain. Aha, itulah fitrah!
Semuanya menjadi jelas. Mengapa si wanita itu ‘kembali kepada islam’? Karena pada dasarnya ia adalah seorang muslim. Sejak di alam ruh, ia muslim. Ketika terlahir, ia adalah muslim(ah). Orangtuanya dan lingkungannyalah yang menjadikan ia berstatus katolik sejak baligh.
Aku manghayati dan takzim pada keagungan siang hari itu. Di bawah langit-langit mesjid Pusdai yang tinggi, dua kalimat syahadat itu—walaupun terbata-bata dibacakan—terdengar begitu syahdu dan menggelegar. Seorang insan telah mengubah jalan hidup dunia-akhirat. Siang itu, ia melepaskan pilihan kemanusiaanya dan kembali pada pilihan ilahiah, pilihan yang diucapkannya ketika masih berwujud ruh dulu, pilihan fitrahnya : menjadi muslim.
Asyhadu an laa ilaaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…
Siang Ramadhan itu, seorang manusia sedang melangkah kembali kepada fitrah. Aku membayang beribu malaikat turun menyaksikan, seisi tata surya cermat mendengarkan. Karena peristiwa ini sungguh mentakzimkan. Sungguh agung. Sungguh indah. Allahu Akbar…[]
jadi bingung bos…..sebenarnya ruh itu apa?
terus apakah dasar manusia itu baik atau buruk?
soalnya ada yang bilang bahwa dasar manusia itu baik karena berasal dari ruhnya?
jadi, ruh itu apa?
blokwalging ah..
pa kabar bos??
lama tak bersua?
ikutan bikin konsultan bareng aboi?
atau dimana nih?
“Semuanya menjadi jelas. Mengapa si wanita itu ‘kembali kepada islam’? Karena pada dasarnya ia adalah seorang muslim. Sejak di alam ruh, ia muslim. Ketika terlahir, ia adalah muslim(ah). Orangtuanya dan lingkungannyalah yang menjadikan ia berstatus katolik sejak baligh.”
menurut hemat saya
fitrah tidak sama dengan muslim.
fitrah bukanlah agama melainkan suatu kondisi awal yang belum tercemar. ini lah yang menjadi dasar pemikiran anda surat Ar ruum ayat 30.
islam adalah jalan hidup yang bisa menjaga fitrah itu tetap pada koridornya.
sehingga syahadah rububiyyah di alam ruh tersebut harus dilanjutkan dengan syahadah ilahiyah
“Asyhadu an laa ilaaha ilallah ”
dan syahadah risalah.
wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”.
sehingga setiap orang harus mengucapkan syahadat ketika akan masuk islam, jadi rukun islam yang pertama yaitu syahadat harus benar-benar diaplikasikan.
berkunjung di malam hari dalam rangka inspeksi mendadak ^-^
ga ada buku tamunya nih,,
punten nulis disinih, salam ukhuwah ya brow