SEBUAH NARASI BESAR UNTUK INDONESIA
Seorang pria berkemeja dan bercelana jins duduk di hadapan front officer di sebuah lembaga zakat. Ia, di hadapan dua staf lembaga tersebut yang duduk di hadapannya, menelurkan aspirasi yang serring kudengar dari khalayak kebanyakan yang hidupnya diteror dengan kemiskinan, tentang sulitnya mencari pekerjaan, dan bla..bla..bla…sebuah ratapan dengan irama pengibaan dan penuh dengan emosi sedih.
Namun, teman saya, staf lembaga itu, yang duduk di belakang meja, menanggapi dengan kelakar halus, “ya jangan cari pekerjaan mas. Bikin pekerjaan.” Namun sang pemohon ini menanggapi balik dengan seribu defensive argument, tentang susah cari modal lah, dsb. Teman saya terus menawarkan solusi riil yang bisa dilakukan suami beranak satu itu. Namun sejuta lagi defensive argument ia cecarkan. Susah juga. Ia hanya minta satu, kalau ada kerjaan tolong beritahu.
Aku melihat penampilannya. Masih muda. Ketika ditanya tahun kelahiran, ia jawab 1973. Beban financial keluarga? Anaknya baru satu, meskipun sudah menikah 11 tahun, itupun masih berusia dua tahun, masih orok. Pernah berdagang? Pernah. Kenapa tidak berdagang lagi? Modalnya habis dipakai makan. Jadi selama ini uang makan dari kakaknya. Ketiadaan ijazah, karena SD pun tidak lulus, menjadi alas an.
Akhirnya kedua teman saya itu menyerah dan hanya member petuah-petuah spiritual. Pelajaran nomor satu : betapa susahnya mengubah mindset orang.
Setuju tidak setuju, fatalism telah akut di bangsa ini. Sempit pikirannya, karena keadaan susah. Atau susah keadaannya, karena pikirannya sempit. Begitulah. Gelap, lantas dinikmati. Itu sebabnya seorang ibu yang dililit banyak utang karena harus menyekolahkan tujuh anaknya hasil pernikahan dengan suaminya yang kerja serabutan akan menceritakan kisah sedihnya ini pada kita dengan nada datar bahkan biasa seperti sedang bergosip. Kesusahan bukan kesusahan lagi.
Pria muda pengangguran tadi adalah sampel wajah bangsa kita. Sedang teman saya di belakang meja adalah profil solusi yang sulit diterima, mengawang. Tapi bukan salah si teman saya, melainkan si pria muda tidak membuka cakrawala berpikirnya lebar-lebar, bahwa kemungkinan-kemungkinan masih terbuka.
Barangkali seandainya saya bisa kembali ke hari itu, saya akan mengusulkan sang pria muda menginap di rumah teman saya itu untuk belajar tentang artinya gigih dan menciptakan peluang. Untuk mendapat pencerahan. Semoga saja, meski belum tentu juga, besok paginya ia pulang dengan muka sumringah dan sebuah tekad : baik, saya akan memulai usaha, atau bikin warung, atau apalah.
Pencerahan. Itulah kunci dari semuanya. Ketika gelap, ruangan seperti sempit. Namun, setelah terang, nyatalah banyak pojok-pojok ruangan yang tidak kita ketahui. Belum lagi semua perabotan yang ternyata ada dan dapat kita pergunakan.
Bangsa ini punya semuanya. Alam, manusia, intelejensi. Mengapa semuanya menjadi sampah? Karena tidak ada narasi besar. Sebuah ideology. Ada juga ideology kacangan, atau romantisme proletar, ujung-ujungnya kekuasaan segelintir elit. Maka tubuh perawan Pertiwi dijamah tangan-tangan neolib. Itu yang terjadi.
Kita punya orang, kita punya asset yang bisa menghasilkan uang. Hanya satu yang tidak kita punya : ide!
Indonesia kosong ide. Itulah yang terjadi. Ide tentang apa itu Indonesia, siapa itu Indonesia, mau ke mana Indonesia, apa guna Indonesia untuk dunia? Tidak ada. Setiap orang yang mengaku pewaris negeri hanya berpikir cara untuk kenyang sudah itu pulang. Ini bukanlah pragmatism, karena pragmatism masih punya nilai kebaikan. Ini adalah kedangkalan yang sangat hewani. Uang, seks, symbol, itulah tuhan manusia kini.
Maka, sebuah revolusi pemikiran adalah hajat mendesak, nomor satu, jauh di atas semua yang lain. Jauh di atas revoluisi fisik. Ini berarti membangun ide-ide besar pada bangsa, mengganti penyakit fatalism akibat otak berpindah ke perut dan bawah perut. Ini berarti membuat narasi besar bagi bangsa ini.
Apa Narasi Besar Itu?
Rasulullah saw berkata tentang ditaklukannya Konstantinopel. Maka seorang shahabat berkuda hingga kota itu dan syahid di sana. Sebuah narasi telah menggugah jiwanya agar terbang dari zona nyamannya. Beliau saw pun bersabda tentang pintu istana Kisra. Maka menanglah kaum muslimin pada perang Khandak. Para panglima perang Islam, tersirat atau tersurat, berteriak pada prajuritnya, “Surga di bawah kilatan pedang”. Maka menanglah mereka, atau syahid.
Itulah narasi besar. Rangkaian ide-ide besar. Romawi yang digdaya takluk di tangan Al-Fatih dari peradaban Islam yang baru bangun.
Bangsa ini seperti mobil mewah. Sayang, mesin tidak ada, tidak punya sopir pula. Yang ada hanya tikus-tikus yang menggerogoti jok bahkan karet ban. Maka narasi besar itu harusnya adalah mimpi besar untuk memimpin dunia. Umat Islam pernah menguasai dua pertiga bumi, itu sejarahnya. Kenapa tidak kunjung membangunkan umat? Karena kita tidak begerak karena sejarah. Tapi kita bergerak karena ide-ide. Karena ideology.
Lantas apa ideology kita? Barat dan Timur sudah mengombang-ambing kita. Jadi, tolong, beri kesempatan pada Islam. Aqidah dan Syariah, itulah ideology kita. Ideology yang membuat siapapun yang mengimani dan mengembannya akan ‘terasuki’ hasrat untuk menyebar risalah Qur’an ke seluruh dunia. Memerangi seluruh dunia, kulit putih, hitam dan kuning. Dan terdobraklah mitos masa lalu, apapun itu. Bayangkan, bangsa Arab tidak pernah punya masa lalu sebagai bangsa digdaya. Namun begitu wahyu selesai diturunkan, mereka adalah bangsa baru, yang berhasil menggenggam setiap puncak gunung dengan bendera Tauhid. Inilah kejaibannya. Ideology Islam adalah sebuah keajaiban!
Narasi besarnya adalah, mabda (ideology) Islam dianut oleh bangsa ini. Lalu mabda ini mendorong semua elemen penyusun bangsa ini, baik muslim maupun non-muslim, untuk bersama-sama membangun bangsa dengan Syariah, mengelola alam, manusia dan asset dengan system dari Allah. Maka Negara ini menjadi kuat, adidaya, lalu memimpin dunia. Itulah khilafah. Khilafah adalah fungsi, bukan semata-mata bentuk. Ini sknenario yang harus ditanamkan kuat-kuat pada bangsa ini, agar bangsa ini punya kepercayaan diri yang kuat alias izzah.
Inilah revolusi itu, sebuah pencerahan, memercikkan cahaya terang pada benak bangsa yang gelap, agar tahu bahwa “Another World is Possible”, seperti kata Chomsky. Utopialah bahwa Islam akan menang dan berjaya sedang rakyat masih membeku dalam mental keterjajahan. Pembebasan dalam berpikir wajib didahulukan daripada pembebasan fisik, baik dalam politik, ekonomi, militer, sosial maupun budaya.
Ending dari revolusi pemikiran itu adalah kehendak massa yang kuat, kesepakatan nasional yang menggebu. Tidak penting apakah nantinya ada aksi massa atau tidak. Ada demonstrasi massal atau tidak. Itu tidak penting, bukan itu pointnya. Mimpi kita adalah, desakan mabda’i (ideologis) akan menaklukan semua rintangan : opini publik, militer, kekuasaan, kekuatan modal.
Pada saat itu, bukanlah masyarakat yang mendesak, bukan pula para pejuangnya, atau aktivis dan pengemban dakwah. Bukan pula para demonstran yang mengepung senayan. Bukan! Secara fisik memang terlihat seperti itu. Tapi mereka semua hanyalah baju. Pelaku utamanya, tubuh sebenarnya, kekuatan sebenarnya, adalah MABDA’. Tak terlihat, tapi seperti gelombang atau tsunami.
Bukanlah air laut yang memporak porandakan Banda Aceh, tapi gelombang. Air laut hanyalah baju, ia materi. Sedang gelombang tsunami adalah energy, bukan materi.
Demikianlah. Mabda’ adalah energy, tak terlihat, tak berwujud tetapi punya kekuatan. Dan cara membangunnya adalah penyadaran massal, alias dakwah, hingga menggulirkan revolusi berpikir. Setiap pelaku penyadaran alias pengemban dakwah harus membawa narasi besar itu, memahami, mengahafalnya, memegang teguhnya dan meyakinkan khalayak bahwa narasi inilah takdir masa depan bagi bangsa ini! (22 Juli 2008)
mendengar kata2 fatalism yang akut jadi membuat bibir saya tersungging, menarik!
bagi ijolumut, “apakah anda berani membakar ijazah anda dan mengatakan bahwa ijazah adalah bentuk fatalism terbesar, generalisasi terbodoh untuk menilai kompetensi seseorang”
hehehehe….kumaha kabarna geung, damang?
Kang, ane masukin di situs HATI, ya..
Kita memang harus melangkah menuju pencerahan.
Minadzzulumati ilannur. Dari gelap menuju terang.Tetapi segalanya harus melalui proses.
Tulisan Anda, boleh jadi, mengawali langkah menuju enlightment.Semoga.
do you know any information about this in english?
Wah, yang dipasang di situs Hati juga banyak yang ngasih komentar, kang..
menurut saya, tulisan ini masih bersifat ‘pendahuluan’. baru ide besarnya saja.
berniat dirincikan? kalau iya, akan menjadi buku yang sangat bagus.
sukses ya
Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation
Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
Dikutip Kompas di tulisan pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan
Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia. Mempertautkan makna masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”.
Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii)
Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini.
Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas)
Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini. Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan.
Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo.
Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.
Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak.
Salam Pembebasan
Andreas Iswinarto
Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan “Ngelmu”; Masa Depan “Manusia Indonesia”-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan…
Silah link ke
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html
Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html
Edisi Kemerdekaan Tempo dan 12 buku online : Tan Malaka
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html
iya, kalo jadi buku bagus tu kk..
masalah yang ada di umatsekarang memang seharusnya menjadi ladang amalkita, nanti akan terbukti keyakinan mana yang hakiki