Beranda > ruhiyah > AFIRMASI

AFIRMASI

gunung

Seorang pemimpi adalah manusia egois. Ia tidak peduli apa kata orang tentang imposibilitas akan perwujudan ekspetasi-ekspetasi yang membumbung bak mercon di malam lebaran. Teliganya ditutup sudah tanpa tedeng aling-aling dan tanpa pernah menyesal.

Seperti pendaki gunung. Sedari langkah pertama, walau jasadnya masih di kaki gunung, imajinya sudah ada di puncak, bercengkrama dengan kemenangan bahkan sebelum garis start dilalui. Sejak awal ia sudah mengeliminir rasa lelahnya karena tahu bayarannya lebih melimpah dari keringatnya, yakni kepuasan, hasrat yang lepas seperti merpati.


Itulah afirmasi, anugerah Allah yang mengubah tantangan menjadi peluang, kelelahan menjadi kenikmatan. Setiap langkahnya menjadi dihayati bukan digerutui, pemandangan sepanjang perjalanan menjadi kurang indah dibanding khayalannya tentang kemenangan yang akan diraihnya. Ketika ancaman melintang di tengah perjalanan, adrenalinnya meningkat, namun bibirnya tersungging karena menemukan seni dari perjuangan. Inilah warnanya. Seorang pemimpi menganggap dirinya sedang melukis kemenangannya sendiri, sekali lagi, sejak langkah pertama perjuangan.

Orang-orang berteriak akan kemustahilan dan bahaya, tapi percuma saja. Dorongan dari dalam jiwanya terlampau kuat untuk ditentang, terlampau luas dari jasadnya. Itulah iman, anugerah Allah yang membuka ruang kemungkinan (space of possibility) yang menembus kaidah-kaidah manusiawi dan halangan-halangan materi. Saat batu besar menghalang, selalu ada celah untuk menembus. Saat keterbatasan membelenggu, selalu ada kekeraskepalaan untuk memberontak.

Sayang seribu sayang, realitas telah menipu banyak orang hingga mengira petaka yang menimpa bangsa ini tak mungkin lagi diubah. Seperti awan menghalangi pandangan yang membuat para pendaki mengira puncak itu tidak ada. Seperti The Matrix, sesuatu, atau seseorang telah membuat realitas buatan yang menipu. Kapitalisme, bukan hanya mengenyangkan perut orang-orang kota dan mengosongkan perut orang-orang marginal, tapi guritanya merasuk hingga ke alam bawah sadar membentuk visualisasi baru yang dikira sebagai kenyataan, dan membuat realitas sebenarnya malah dianggap sebagai utopis.

Namun, utopis, adalah kebanggaan seorang pemimpi. Katup Matrixnya sudah dibuka oleh Morpheus. Pencerahan, enlightmen, itulah titik revolusi pemikirannya. Saat itu juga, afirmasi bekerja secara ajaib, bermimpi bahwa diri sudah ada di ambang kemenangan, di realitas yang baru sama sekali. Namun mimpi itu sejatinya adalah realitas yang hakiki, dan kenyataan sekarang sejatinya hanyalah mimpi buruk. Sementara jiwanya sudah ada di realitas baru, jasad materialnya mencoba menyusul dengan jalan berupaya mengubah realitas yang rusak menjadi realitas baru sesuai iman yang dianutnya. Setiap hari.[]

2 Juli 2008

Categories: ruhiyah
  1. kertaskuning
    Juli 3, 2008 pukul 3:48 pm | #1

    saya juga nih kang, walau jasad masih di bumi tetapi imaji sudah berada di depan pintu gerbang surga :)

  2. schlachthausabattoir
    Juli 9, 2008 pukul 6:52 pm | #2

    afirmasi lainna salah satu prinsip logika matematik?? afirmasi x negasi ….

    nya teu??

  3. andi
    Juli 30, 2008 pukul 10:04 am | #3

    afirmasi memang perlu untuk kita,

  4. firda
    Februari 15, 2009 pukul 11:00 am | #4

    ijin copy yah… sekalian ijin buat di print…

    ma’anajahi..

    nuhun banget.

  5. ivik
    Maret 14, 2009 pukul 11:28 am | #5

    i’m a dreamer,,really.

    for me, a dreamer doesnt always mean as someone who is selfish. sometimes a dreamer cry coz of his/her dream that’s not easy to gain..

    i think i’ll always be a dreamer.

    hoho, i’m in melancolic mode also now, just like my friend.

  1. Belum ada trackback.