TITIK NOL

Bagaimana aku dapat melangkah ke depan jika aku tidak tahu jalan mana yang harus kutempuh?
-John Lennon-
Ada sebuah kanvas yang memuat lukisan abstrak tentang manusia, angan-angan, ajal dan ‘setelah ajal’. Inspirasinya datang dari kisah nyata berbelas abad lampau ketika pada suatu hari Rasulullah saw membuat garis di atas pasir, sebuah persegi (square). Dari dalamnya menembus sebuah garis melampaui garis sisi bujur sangkar. Di tengah digambarkan sebuah titik : “Ini manusia”. Lalu beliau menunjuk garis tepi bujur sangkar : “Ini ajalnya”. Kemudian menunjuk ke garis yang membentang dari titik manusia menembus dinding square, jauh meninggalkan garis luarnya. “Inilah angan-angannya,” sabdanya.
‘Hadits dalam kanvas’ yang dikutip sebagai ilustrasi buku Al-raqaiq karya Muhammad Ahmad Arrasyid memberi pesan tentang dua hal : angan-angan manusia terhenti oleh ajal, atau kedua, angan-angan manusia itulah yang memenjarakan manusia.
Hasrat, sebagai unsur manusiawi dari angan-angan, adalah motif awal manusia dalam beraktivitas. Ia, yang disebut juga naluri (gharizah), sudah include dalam proses penciptaan. Naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’) mendorog kita untuk memiliki tempat tinggal, membuat senjata, dan berkelahi bila diperlukan. Juga membuat kita berhasrat untuk memiliki harta, jabatan, dan semua perangkat pemuas ego. Naluri mengkuduskan sesuatu (gharizah tadayun) membuat manusia menyembah apa saja yang dianggapnya lebih ‘hebat’ dibanding dirinya. Inilah sejarah agama dunia. Manusia menyembah alam, dewa-dewa, lalu diluruskan oleh monotheisme. Naluri berketurunan (gharizah nawu’) membentuk hasrat seksual dan menyayangi sanak famili.
Naluri itu, ditambah kebutuhan biologis (makan, minum, tidur, dan segala hal yang jika tidak dipenuhi akan berujung pada kematian) menggerakan jasad manusia untuk beraktivitas memenuhinya. Alat pemenuh kebutuhan itupun bertebar di muka bumi, menjadikan dunia ini sebagai arena perebutan antar manusia untuk memperbanyak kepemilikan alat pemuas. Makanan, pakaian, mobil, uang, rumah, pasangan, anak-anak, tanah, emas,…
Hingga pada tingkat tertentu, hasrat ini memenuhi agenda hidup manusia keseharian. Inilah yang membentuk rutinitas yang seluruh manusia bersepakat akan istilah ‘kejenuhan’ jika ia berlangsung dalam waktu yang sedemikian lama. Bayangkan saja, dari hari ke hari manusia bangun pada jam yang sama, sarapan pada jam yang sama, pergi bekerja pada jam yang sama, pulang pada jam yang sama, tidur pada jam yang sama, bangun pada jam yang sama, begitu seterusnya. Persis seperti, meminjam isitilah dari Dr Jalaluddin Rakhmat, robophat. Manusia robot, lebih tepatnya.
‘Chip’ hasrat atau nafsu telah menggerakannya untuk melakukan rutinitas tak berakhir itu.
Kita belum membicarakan mengenai benar salahnya aktivitas berdasarkan hasrat ini hingga hasil dan target yang dicapai. Ketika hidup keseharian hanya berhenti pada kepuasan materi, maka pada hakikatnya kerja keras itu tidak berhenti, karena kepuasan tidak akan pernah terpenuhi. Yang terjadi kemudian adalah kegilaan : kepalanya dipatok untuk tujuan materi : uang yang lebih banyak, rumah yang lebih besar, mobil yang lebih mewah, jabatan yang lebih bergengsi. Inilah kegelisahan yang mengisi setiap benak manusia ketika bangun tidur. Hasrat telah membuatnya gila sebagaimana kerinduan pada seorang wanita telah melahirkan syair Qais bin Mulawwih, si Majnun yang tergila-gila pada Layla :
Mereka mengatakan, “kamu begitu tergila-gila dengan wanita yang kamu cintai.” Kujawab mereka, “rindu memang lebih berat daripada penyakit gila.”
Hasrat atau kegilaan yang lebih membahayakan? Itu tidaklah penting karena hasratlah yang membuat kegilaan. Terbukti, bunuh diri bukan monopoli orang miskin. Ketika manusia sudah mendapatkan semua yang ia inginkan, tak dapat dibendung, sebuah kegelisahan akan segera melanda dengan pertanyaan : untuk apa semua materi ini? “Aku sudah mendapatkan banyak uang, istri yang cantik, rumah yang besar, mobil yang mewah, jabatan yang tinggi. Lantas, setelah ini semua, apa?”. Lebih mendasar lagi, “untuk apa aku melakukan rutinitas ini? Untuk apa aku hidup?”
Kebahagiaan ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan materi yang dimiliki. Seorang milyarder yang insomnia akan rela (atau terpaksa?) mengeluarkan puluhan juta rupiah demi bisa terpejam tidur. Masih jauh lebih bahagia darinya adalah seorang tukang becak yang tertidur pulas setelah mengayuh seharian walaupun laba yang diperoleh tidak lebih dari tiga puluh – lima puluh ribu rupiah.
Materi, sebagai alat pemuas, mungkin berhasil didapat. Akan tetapi, makna hidup, tidak serta merta terkandung dalam barang-barang itu. Kehilangan makna dan kehampaan hidup, menjadi teman akrab manusia modern, yang hidup di tengah rimba raya teknologi yang mengganti kreativitas menjadi kemudahan, spiritualitas menjadi hasrat belanja.
Padahal, seperti kata Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, pencarian manusia akan makna merupakan motivasi utamanya dalam hidup ini. Jadi makna, bukan hasrat, motif utama hidup manusia, disadari atau tidak.
Penyakit Makna
Isaac Newton, diakui dunia sebagai tokoh kunci di balik bangkitnya ilmu pengetahuan sebagai faktor yang mengubah Eropa hingga di kemudian hari mengalami revolusi industri. Namun, era itu juga adalah pembatas antara era agama dan lahirnya sekularisme. Pemikiran Newton dan kawan-kawannya telah mendorong erosi dalam kepercayaan terhadap agama dan membentuk perspektif baru tentang alam semesta yang lebih materialistik dan mekanistik.
Ketika masyarakat mendapati bahwa ilmu pengetahuan dapat menerangkan segala hal yang selama ini tidak terjawab, keyakinan mereka akan yang Ghaib rontok. Saat ilmu pengetahuan melahirkan industrialisasi besar-besaran, terjadilah urbanisasi yang mengubah tatatan masyarakat tradisional dan etika. Sebetulnya, lebih jauh, telah terjadi revolusi filosofis. Makna-makna dan nilai-nilai yang sebelumnya berkembang di masyarakat tradisional telah tercerabut dari akarnya. Revolusi filosofis ini turut pula mencabut jiwa manusia.
Dunia, alih-alih dipenuhi oleh tangan-tangan Ghaib dan oleh karenanya membentuk perspektif spiritual apda manusia, kini terasa mekanistik. Barangkali apa yang dikatakan oleh Soekarno dapat memberikan gambaran tentang hal ini :
Bangsa yang sudah hidup dalam alam industrialisme banyak yang meninggalkan religiusiteit. Apa sebab? Sebab ia berhadapan dengan banyak sekali kepastian-kepastian. Perlu listrik, tidak perlu, “oh gaib, oh gaib.” Tinggal tekan knop saja, terang menyala. Ingin tenaga, tidak perlu ia memohon pada yang gaib. Dia punya mesin, mesin ia gerakkan, mesin itu bergerak. Di dalam tangannya ia merasa menggenggam kepastian.
Doktrin Newtonian mengajarkan bahwa dunia fisik diatur oleh hukum besi : tiga hukum mengenai gerak dan hukum gravitasi. Segala sesuatu di dunia fisik bisa diramalkan dan karenanya dapat dikendalikan. Sebagai contoh, jika kita menjatuhkan sebuah benda dari ketinggian 20 meter, maka kita dapat meramalkan waktu yang ditempuh benda itu untuk jatuh sampai ke tanah. Jika asumsi percepatan gravitasi adalah 10 meter per detik kuadrat, maka waktu sama dengan akar dari dua kali ketinggian dibagi percepatan gravitasi, yaitu 2 detik.
Maka, melalui filosofi ilmuwan Newtonian, alam adalah dingin, mati dan mekanis. Tidak ada tempat dalam fisika Newton bagi pikiran dan kesadaran. Manusia, pikiran dan tubuh dilukis dalam paradigma mekanis. Kita adalah mesin pikiran dan mesin gen. Tubuh kita adalah kumpulan dari bagian-bagian, sikap kita bisa dikondisikan dan diramalkan, jiwa kita adalah ilusi dari bahasa agama kuno, dan pemikiran kita sebatas aktivitas sel otak.
Alhasil, tidak ada lagi tempat bagi makna. Dunia telah dibangun selama berabad-abad di atas ilmu pengetahuan yang mekanistis tadi. Peradaban yang materialistis ini telah membuat ketimpangan dan ketidakseimbangan hidup dan kejiwaan. Tidak heran jika kegelisahan atas pertanyaan-pertanyaan besar (uqdatul kubra) semakin tidak terjawab. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah dari mana manusia berasal? Hendak ke mana manusia setelah mati? Apa yang harus dilakukan dalam hidup ini? Intinya, paradigma holistik mengenai tujuan hidup telah hilang dari keseharian manusia.
Inilah pangkal depresi sosial. Kebanyakan penyakit kronis di era ini berawal dari ‘penyakit makna’. Penyakit jantung, alzheimer didahului oleh depresi. Alih-alih terobati, kekosongan dan kehampaan yang merasuk ke dalam sel-sel tubuh kita telah mewujud dalam kecanduan akan alkohol dan narkoba. Akhirnya, etika runtuh, kriminalitas merajelela, dan masyarakat pun menjadi chaos.
Kembali ke Titik Nol
Dr Hamka menulis tentang seorang mahasiswa di Toronto yang lulus dengan yudisium Cum Laude. Ketika sang mahasiswa itu diwisuda dan menerima ijazah dengan disaksikan oleh para hadirin civitas academica, saat itu pula ijazah yang diterima di tangannya dirobek langsung seraya berkata : “Mengapa robek ijazah ini? Karena malu,” jawabnya pula.
“Betul saya mampu menjawab segala pertanyaan dari para penguji dengan sangat mudah sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Tetapi saya sangat malu karena tidak mampu menjawab pertanyaan dari lubuk hati , padahal cuma tiga pertanyaan :
Pertama, saya ini berasal dari mana?
Kedua, saya ini akan menuju ke mana?
Ketiga, saya ini harus bagaimana?
Tiga pertanyaan inilah yang hingga saat ini belum mampu saya jawab.”
Memang, tidak mudah, di tengah putaran rutinitas yang menggerakan kita layaknya mesin, memaksa diri untuk terbang menukik lalu berhenti sejenak, merenungkan apa saja yang telah kita lakukan dan mengapa kita melakukan itu.
Namun, bagaimana pun, demi menjaga diri dari gelombang depresi dan penyakit makna masyarakat modern, setiap manusia yang mengaku beriman wajib mengenyahkan sejenak ego dan kesombongannya untuk berhenti sejenak merenungkan hal ini.
Maka hendaklah manusia memperhatikan, dari apa ia diciptakan
(QS. 86 : 5).
Menyelamatkan diri dari kebingungan makna, tidak hanya membantu menjawab tiga pertanyaan besar tadi, namun juga turut serta memberi alasan pada kelahiran kita ke dunia.
Maka anggaplah dunia sebagai sebuah jalan panjang dan hidup adalah perjalanan. Marilah kembali ke titik nol, titik di mana perjalanan itu dimulai, walaupun kita memulainya dengan kebingungan makna dan tujuan hidup, sebagaimana yang dilukiskan dalam perkataan Bilbo Baggins ketika ia memulai petualangan besarnya dalam The Lord of The Rings :
Jalan itu terus dan terus berlanjut
Sejak tempat ia bermula dari pintu.
Kini jauh di di depan jalan itu telah menghilang,
Dan aku harus mengikuti, jika aku bisa,
Mengejarnya dengan langkah kaki penuh semangat,
Hingga ia menyatu dengan jalan yang lebih besar
Ketika banyak jalan dan keperluan bertemu
Dan ke mana sesudah itu? Aku tidak tahu.
* * *
ketika dunia tampak samar
hanya mimpi dan cita-cita yang membawa nyawa bagi hari esok
salahkah..?
zuhud terhadap dunia adalah meninggalkan kenikmatannya ketika dunia sedang mencintaimu, bukan meninggalkanmu (Umar bin abdul azis)
tulisan yang bagus, pencerahan bagi org2 yg masih gelap dalam menjalani hidup
Sebenarnya manusia itu apa?
newton ga da hubungannya ama sekularisme dan penghilangan spiritualime.. para ilmuwan besar di awal enlightenment age adalah orang2 religius.. bahkan rasionalis semacam descartes mempertahankan ke-katholikannya di tengah2 masyarakat inggris yg telah mengikuti reformasi gereja..
biang keladi penghilangan kepercayaan yg ghaib ituh filsafat peagmatisme..
dimana hasil kerja newton cs. dijadikan senjata dengan penginterpretasian yg baru..