Feeds:
Tulisan
Komentar

AJS49CACNXJTICA43LSNUCA0H5VOTCAMTXI2OCAUBACZPCA3HK2F7CABQ79WSCA7BQD3BCA2E9EPLCATX6MMACAE2TNUDCAFS3877CAGBSK7ZCA19SIRSCA78FO0OCAARU0ZGCADQFSYWCA8CSGAGoleh : salam revolusi

Teruntuk bapak-ibu capres-cawapres yang sedang melenggang ke seantero negeri. Saya prihatin menyaksikan style kampanye anda sekalian yang lebih mirip jumpa fans artis dengan penggemar. Dielu-elukan oleh para pendukung anda.

Semangat boleh mengadopsi gaya 45, menggelegar membahana di jagat raya, dengan suara-suara bak ksatria. tetapi nyatanya, kebijakan yang anda telorkan sama saja. Setahun, dua tahun, tiga tahun.. satu dasawarsa, tiga dasawarsa, dan seterusnya, tidak ada perubahan fundamental yang terjadi di negeri gemah ripah. nonsense.

Jangan harapkan negeri kita bisa merdeka secara leluasa, jika pikiran anda sebagai penguasa masih berkutat dengan dunia, jika sistem yang anda adopsi adalah hasil produk hukum buatan manusia. Iklan-iklan kampanye anda sekalian begitu familiar diruang-ruang pribadi kami, lewat sebuah kotak ajaib bernama televisi.

Tapi selepas iklan, kotak ajaib itu menayangkan pemandangan miris negeri kami yang terjajah penyakit KUSTA ( Kapitalisme, Upaya Sekuler untuk Taat pada Amerika). Lihat saja betapa penguasa negeri kami (termasuk anda) begitu hormat pada negeri adidaya itu.Yang telah mencabik-cabik, membunuh, dan membantai manusia-manusia tak berdosa di belahan bumi para nabi. ‘Ekspansi Tuhan’ yang salah dipersepsikan oleh seorang Bush dan akan diteruskan oleh Obama. dan Kekejaman itu terus mengintai kami, mengintai negeri kami, dan mencabik harkat martabat negeri bermayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Dari proklamasi dikumandangkan sampai era terkini pemerintahan, jargon ‘mengejar ketertinggalan’ terus saja didengungkan.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, sampai kapan?Apakah sampai kiamat akan terus mengejar ketertinggalan? Sampai kapan negeri kita terus merangkak? Sungguh melelahkan mengejar ‘ketertinggalan’ yang tak pernah punya toleransi menunggu bahkan cenderung untuk menindas kami. ‘Ketertinggalan’ yang by design untuk menguntungkan para mucikari dunia.

Kontrak politik boleh anda buat dimana-mana , bermaterai, atau tidak. Kami tidak peduli. Toh, apabila sudah berada pada tampuk kekuasaan, apa daya kami jika kontrak politik itu hanya penjadi pemanis dinding di rumah anda. Kami menggugat, sebentar akan datang polisi berserdadu baja dan bersenjatakan gas air mata menghadang kami. =============================================================== Sampai di sini langkah kami sontak terhenti.Dan kami tersadarkan begitu diperdengarkan ayat Allah yang berbunyi :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari mungkar., dan beriman kepada Allah. …(QS: Ali Imran: 110).

Luar biasa ’statement’ Sang Maha penguasa jagad raya. Menyanjung kami dengan kebesaran Islam sebagai agamanya. Sudah bukan saatnya lagi kami percaya penguasa semacam ‘mereka-mereka’ beserta seperangkat sistem atas nama demokrasi yang mengisolasi kesejahteraan umat ini.

Karena ternyata, setelah kami telaah, dalam agama kamipun begitu sempurna. Segudang solusi berdigdaya yang ampuh untuk mengangkat derajat bukan saja umat islam, melainkan satu penjuru umat manusia di dunia.

Para penguasa dan calon penguasa yang budiman. semoga rahmat Allah menyertai anda sekalian. Kami bukan generasi mati rasa.Yang mudah terbuai dengan rayuan manusia yang rakus akan royalti kekuasaannya.Untuk sekarang, dan nanti.

Kami bangkit di jalan Allah,

dan kami mesti tegakkan panji itu

Kejayaan agama ini harus muncul kembali

atau darah kami tumpah karenanya.

––ahad yang kesekian kali di Bandung, menjelang jam dua pagi—-

 —–Allahuakbar!!! —-^^

sby-kampanyeAda satu persoalan yang mungkin terlewatkan untuk kita perdebatkan, yakni apakah seorang pemimpin yang sudah menjadi milik rakyat masih boleh diklaim sebagai milik partainya?

Saya mulanya maklum ketika menyaksikan berita di teve bahwa sang Presiden berbaju partai ikut berkampanye. Namun kemakluman ini berubah menjadi keheranan tatkala mengetahui bahwa sang wakil pun pada waktu yang sama ternyata sedang bersama-sama partainya. Nah lho, lantas siapa yang ngurus negara? Ataukah negara diliburkan selama masa kampanye?

Okelah, barangkali bisa dipahami mengingat semua jadwal kenegaraam sudah diatur sedemikian rupa agar tidak bentrok dengan jadwal kampanye. Namun, sulit dipahami bahwa di negeri dengan 1001 musykilah yang bertambah setiap harinya, pemimpinnya masih punya waktu luang untuk berkampanye.

Rakyatnya saja di lapisan bawah masih harus menguras keringat sepanjang hari untuk menghasilkan nafkah yang tidak mencukupi, tanpa ada waktu istirahat, lha ini, pemimpinnya sendiri, masih bisa ‘cuti’ sejenak dari urusan kenegaraan. Bahkan di surat kabar dengan jelas dipampang bahwasanya Gubernur Jawa Barat mengambil cuti 2 hari untuk mengkampanyekan partainya.

Padahal orang sekaliber Muhammad saw, yang memiliki massa yang loyal penuh, tentunya tidak akan diprotes oleh siapapun bila beliau pada perang Khandaq bersantai saja di rumah bersama isterinya sementara pada shahabat membanting palu menggali parit. Namun yang terjadi justru sebaliknya, beliau saw turun memecah batu, bahkan sambil menahan lapar dengan cara melilitkan batu ke perutnya.

Umar bin Khattab r.a. bisa saja menyuruh si Ibu yang memasak batu buat anaknya untuk mengurus semacam ‘kartu miskin’ lalu mengurus santunan negara ke birokrat yang ia suruh. Namun Sang Amirul Mukminin justru memanggul sendiri karung gandum itu.

Kedua pemimpin ini tidak mengambil posisi pimpinan yang selalu dekat dengan previlage dan glamoritas, melainkan posisi pelayan, yang lebih pantas merasakan penderitaan yang lebih berat dari orang yang dilayaninya.

Maka tidak ada istilah gubernur atau presiden cuti walau hanya satu jam. Apalagi negara ini belum sampai di kondisi aman. Kita belum bicara tentang perampokan sumber daya alam, human error dalam pengurusan bendung saja membuat kita miris. 99 nyawa sudah melayang, dan angka korban hilang di atas 100 dalam bencana Situ Gintung. Namun apa yang terjadi, adakah pemerintah mengumumkan berkabung? Selepas mengunjungi lokasi kejadian barang sejenak, mereka sibuk lagi dengan kampanye partai masing-masing. Dan para caleg memanfaatkan momen santunan untuk cari muka. Apakah satu saja nyawa seorang rakyat Indonesia tidak terlalu berharga bagi pemimpinnya? Apakah ia kira satu nyawa itu tidak akan ditanya di hadapan Allah swt kelak?

Pantas saja kalau orang bilang Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Kepemimpinan identik dengan pengaruh. Dan pengaruh itu hilang begitu berkurangnya intervensi dalam pelayanan dan pengaturan. Lihatlah, misalnya, bagaimana negara hanya menjadi regulator dan menyerahkan harga BBM pada pasar. Atau bagaimana pemerintah seperti otomatis meneken perjanjian-perjanjian yang merugikan rakyat, dengan berpindahnya aset-aset sumber daya alam milik rakyat ke tangan asing—baru-baru ini adalah disahkannnya UU Minerba.

Maka negara saharusnya diumumkan libur! Ya, karena nasib kita kini di tangan mekanisme pasar yang tak terlihat (invisible hand), bukan di tangan negara lagi. Begitukah kita sekarang? Secara menyedihkan hanya menjadi komoditas dari korporat-korporat besar yang kekayaannya bisa melebihi kekayaan negara—dan oleh karenanya mampu berkuasa lebih dari negara?[]

Matematika Kemenangan

Lebih baik menunda kemenangan secara sengaja, daripada kita merebutnya untuk kemudian dilepas dalam waktu singkat bersama datangnya badai.

refahSetiap momen politik adalah celah sejarah. Dalam konteks Indonesia, reformasi 1998 adalah contoh terdekat bagaimana sebuah celah sejarah terbuka dan semua komponen dari latar belakang ideologi yg berbeda berebut bermunculan, dari bawah tanah menuju pucuk pohon, dari pinggir bergeser ke tengah, ke pusat-pusat perumusan kebijakan.

Dalam konteks pergerakan Islam, setiap momen politik berarti tantangan untuk menghitung : seberapa besar peluang untuk melompat ke kekuasaan? Pemilu, misalnya, di alam demokratis seperti sekarang akan menjadi momen politik lebih random posibilitas kondisi pascanya dibanding pemilu di masa Orde Baru dulu.

Lanjut Baca »

TUGAS SEJARAH

brainApa yang Anda pikirkan sewaktu bangun tidur? Saya teringat pada sebuah serial kartun di televisi yang diputar waktu saya kecil dulu, yang judulnya The Pinky and The Brain. Keduanya adalah tikus. Yang satu bodoh dan polos, satu lagi jenius (sesuai namanya : Brain).

Yang menarik, serial itu selalu diawali dengan adegan di mana Pinky bertanya kepada Brain, “Apa yang akan kita lakukan hari ini, Brain?”. Dan Brain akan menjawab, “seperti biasa, Pinky. Mencoba mengusai dunia…”, kalimat ini selalu ia ucapkan secara dramatis. Dan betul, setiap episodenya menceritakan petualangan Pinky dan Brain dalam usahanya menguasai dunia. Brain memiliki sesuatu yang tidak dimiliki tikus lain.

Lanjut Baca »

LUPA

images2

Seperti pepatah Arab : semua lelaki mengaku pernah bertemu Layla. Sayangnya, Layla tidak mengaku bertemu siapapun. Hari ini semua ‘calon wakil rakyat’ mengaku membela dan akan memperjuangkan rakyatnya. Tidak ada kecap nomor dua, semua partai mengaku akan mensejahterakan rakyat, berpihak pada petani, memperjuangkan hak perempuan. Semuanya.


Betul kata sebagian pengamat, bangsa ini mungkin mengidap penyakit lupa. Karena bukankah janji-janji (baca : mimpi-mimpi) itu juga yang diobral oleh mereka lima tahun lalu? Lalu bukankah setelah mereka duduk di senayan sana, yang ternyata ditelurkan adalah produk-produk hukum yang merugikan rakyat yang diwakilinya? UU Migas, UU Penanaman Modal Asing, UU Sumber Daya Air adalah di antara undang-undang yang sama sekali tidak pro-rakyat dan sangat pro-kapitalis. Lantas apa jaminan mereka tidak akan mengulang dosa yang sama?

Lanjut Baca »

Loyalitas

images17 trilyun rupiah, biaya yang dihabiskan untuk menggelar pemilu bulan depan. Angka itu belum mencakup dana kampanye yang dikeluarkan oleh masing-masing caleg dari 12000 caleg yang berkompetisi, biaya iklan parpol dan capres di televisi, dan lain-lain.

Itu baru ongkos finansial. Kita belum menghitung energi yang dikuras untuk saling menjatuhkan, saling rayu antar parpol, antar kontestan, juga waktu dan energi untuk semua penjajakan kemungkinan koalisi antar calon. Semua ini demi sebuah pesta demokrasi di negeri yang katanya termasuk negara demokrasi terbesar di dunia.

Lanjut Baca »

Jembatan Cinta

love

Ternyata kecocokan tidak sama dengan kesamaan.

Banyak paramater untuk menilai kecocokan. Misal : hobi, minat, jurusan kuliah, tema buku yang digemari. Tapi semua itu sebetulnya bukan indikator untuk kata cocok, melainkan sama. Mudahnya, sekumpulan kunci di tangan tidak akan membuka pintu. Hanya sebuah kunci dan sebuah lubang kunci yang cocok yang dapat membuka pintu.
Lanjut Baca »

(Refleksi 85 Tahun Runtuhnya Khilafah)

Oleh : Reza Ageung

sunrise

Kalau sekali waktu kita berada di padang pasir yang tandus dan selama sepekan tidak menemukan air, maka kehadiran satu tetes saja menjadi anugerah yang dipuja tiada henti. Padahal biasanya kita mengutuk hujan deras yang turun di waktu seharusnya kita keluar rumah.

Kekeringan dan lantas kehausan, fenomena lumrah. Ketika tidak ada seorang pemimpin pun yang berani mengambil tindakan nyata terhadap Israel, seorang Perdana Menteri yang mengutuk (sekedar mengutuk) Zionis akan dianggap pahlawan. Padahal bagi tukang ojeg sekalipun sekedar mengutuk bukan pekerjaan sulit. Dunia Islam haus akan pemimpin yang tegas, namun singa-singa punah, diganti dengan ayam-ayam yang sekalinya berkokok nyaring ditaburi applause.

Lanjut Baca »

images

Demokrasi, modal, dan kekuasaan, adalah jeratan-jeratan modern yang saling menjalin satu sama lain membelenggu manusia-manusia modern dalam penjajahan gaya baru. Namun, seringkali kita lupa bahwa di samping ketiga hal itu, ada satu lagi perangkat pembelengguan, yakni agama.

Lanjut Baca »

Kesadaran dan Kesatuan

unity

Tempo hari saya diminta mengeprint tempelan untuk kotak penghimpunan dana untuk bantuan kemanusiaan untuk bencana Manokwari, Papua. Rupanya, kalau sebelumnya tempelan untuk bantuan ke Palestina sebesar A4, kini untuk Manokwari kertas yang diperlukan cuma seukuran B5. Dan, ternyata, memang kotaknya pun lebih kecil. Kenapa? Seorang teman nyeletuk, “Isu Manokwari benar-benar tenggelam oleh isu Palestina.”

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »